Warga Aceh Jadi Korban Jambret di Medan, Minta Bareskrim Bertindak

Foto: Ilustrasi jambret

Medan | Fokusinspirasi.com– Aksi kejahatan jalanan kembali meresahkan masyarakat. Kali ini, seorang warga Aceh Tenggara menjadi korban penjambretan di Kota Medan.

Korban, Lisnawati, meminta Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri turun tangan memberantas komplotan jambret yang kian merajalela di ibukota Provinsi Sumatera Utara tersebut.

Dalam keterangannya, Lisnawati berharap Kabareskrim Polri Komjen Pol Wahyu Widada segera memerintahkan jajaran Polda Sumut untuk menindak tegas para pelaku. Ia juga meminta dukungan dari anggota Komisi III DPR RI asal Aceh, M. Nasir Djamil dan Nazaruddin alias Dekgam, agar persoalan ini mendapat perhatian serius.

“Aksi jambret ini sudah sangat meresahkan. Kami warga Aceh yang sering ke Medan untuk belanja, berobat, atau mengunjungi anak-anak di sekolah dan pondok pesantren merasa tidak aman. Kami tidak tahu daerah mana saja yang rawan kejahatan,” ujar Lisnawati, Senin (14/4/2025).

Baca Juga  Dr. Ramzi Adriman Resmi Daftar sebagai Bakal Calon Rektor USK 2026–2031, Usung Visi "USK EMAS"

Lisnawati menjadi korban penjambretan saat berada di Jalan Gatot Subroto, tepatnya di dekat Jembatan Universitas Panca Budi, pada Minggu (13/4/2025) sekitar pukul 15.00 WIB.

Saat itu, ia tengah menaiki becak bermotor bersama keluarga setelah berbelanja di Pasar Sentral Medan Mall.

“Saat singgah membeli kue di depan Toko Mawar, tiba-tiba dua pria berboncengan dengan motor bebek merampas tas saya. Di dalamnya ada HP, uang ratusan ribu, dan KTP,” jelasnya. “Tas saya jepit di paha, tapi mereka tetap berhasil menariknya dan langsung kabur.”

Baca Juga  Peringati Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Pertamina Transplantasi Terumbu Karang di Pulau Pasumpahan

Lisnawati mengaku trauma karena kejadian berlangsung di siang hari di kawasan yang ramai. Ia berharap penyelidikan bisa dipercepat mengingat ada rekaman CCTV di lampu merah dan lokasi kejadian.

“Medan sekarang sudah tidak aman. Polisi harus petakan titik rawan, pasang kamera pengawas, tingkatkan patroli, dan siapkan call center yang mudah diakses masyarakat,” katanya.

Lisnawati berharap kasus ini tidak dianggap sepele. “Kalau polisi serius, sindikat ini pasti bisa diberantas,” tegasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *