Warga Blang Peuria Rayakan Maulid Nabi dengan Seni Zikir Medike dan Kenduri Besar

Sejumlah grup zikir melantunkan syair shalawat pada peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, di Desa Blang Peuria, Kecamatan Samudera, Aceh Utara. (Foto: RM)


Aceh Utara | Fokusinspirasi.com
– Masyarakat Desa Blang Peuria, Kecamatan Samudera, Aceh Utara, menggelar peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1447 Hijriah dengan kenduri besar dan lantunan zikir tradisi Seni Meudike, Minggu (07/09).

Suasana penuh khidmat terlihat saat sejumlah grup zikir tampil melantunkan syair shalawat Nabi dengan berbagai irama. Para peserta zikir melakukan gerakan kepala, tangan, dan bahu mengikuti alunan syair, yang dipandu oleh beberapa syeh.

Tradisi Seni Meudike merupakan bentuk zikir yang telah diwariskan turun-temurun oleh masyarakat Aceh. Dalam setiap perayaan Maulid, warga biasanya mengundang grup zikir dari desa lain untuk ikut melantunkan zikir bersama.

Baca Juga  Anggaran Pengadaan Mobil Dinas Baru Bupati Aceh Utara Rp2,3 Miliar

Selain berzikir, warga juga membawa berbagai menu makanan untuk kenduri di meunasah (balai desa). Setelah acara selesai, masyarakat makan bersama sekaligus membagikan ratusan nasi bungkus kepada warga yang hadir, bahkan disiapkan satu ekor lembu untuk hidangan bersama.

Muzammil (11) , salah seorang peserta zikir, mengaku baru pertama kali mengikuti acara tersebut. “Saya sudah belajar gerakan mengikuti lantunan syair dari syeh bersama grup zikir Dayah Darul Mubtadi Blang Peuria beberapa bulan lalu, dan ini pengalaman pertama tampil dalam acara Maulid,” ujarnya sambil tersenyum malu.

Sementara itu, Tengku Fakhrurrazi selaku Imam Desa Blang Peuria menjelaskan bahwa masyarakat Aceh memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW hingga tiga kali, yakni Maulid pertama, kedua, dan ketiga. “Alhamdulillah kami berterimakasih kepada seluruh pemuda dan elemen masyarakat yang telah membantu mempersiapkan acara hingga selesai dan sukses,” katanya.

Baca Juga  BEM Unimal: Ini soal Nyawa, Darurat Nasional Sudah Wajib Ditetapkan!

Dalam peringatan ini, masyarakat berzikir dan bershalawat kepada Rasulullah sebagai bentuk kecintaan kepada Nabi,” tambahnya.

Peringatan Maulid Nabi menjadi momentum kebersamaan warga. Selain mempererat silaturahmi, tradisi ini juga melestarikan warisan budaya Aceh melalui lantunan Seni Meudike yang sarat nilai religius dan selalu meneladani akhlak Nabi Muhammad SAW.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *