Asa Lek Ngadiman Dibalik Dua Pohon Aren

Lek Ngadiman saat sedang proses pengambilan air nira. Foto: Dok. Fokusinspirasi.

Aceh Timur | Fokusinspirasi.com – “Sudah dua 20 tahun saya mencari rezeki dari air nira ini melalui dua pohon aren, Alhamdulillah bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari,” kata Lek Ngadiman, warga Desa Alue Ie Mirah, Kecamatan Indra Makmu, Kabupaten Aceh Timur, Kamis, (6/2/25).

Saat itu, jam menunjukkan pukul 07.00 WIB, pria lansia tersebut mulai mempersiapkan diri untuk pergi ke kebun mengambil air nira, mengenakan baju kaos sederhana, celana longgar sebetis dan peci di atas kepalanya serta menggunakan sandal jepit menjadi ciri khasnya sehari-hari.

Sambil membawa sebilah parang dan wadah, Lek Ngadiman jalan setapak demi setapak menuju ke kebun yang tak jauh dari rumahnya. Sesampainya disana, mengandalkan tangga kecil yang terbuat dari bambu tua, dan membaca bismillah sembari berdzikir di dalam hati, Lek Ngadiman secara perlahan menaiki tangga itu satu per satu dan penuh kehati-hatian.

Disamping itu, sesekali hembusan angin dan kicauan burung mulai mengajaknya berbicara, matahari juga ikut menyapa, sehingga terlihat kulitnya yang sudah berkeriput itu terbakar oleh sengatan matahari hingga akhirnya keringat mulai berpeluh, namun semua itu dikesampingkan hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Baca Juga  Seekor Gajah Sumatra di Aceh Kurus dan Lemah

Sesampainya di puncak pohon aren, ketukan parang pun terdengar, secara perlahan dia mulai memotong batang pohon aren guna menghasilkan air nira dan menempatkan wadah sebagai tempat penampungan, sedangkan air yang sebelumnya telah ditampung diturunkan.

 “Biasanya saya dalam sehari itu mengambil air nira pada waktu pagi dan sore hari, terkadang juga hanya sekali,” kata Lek Ngadiman dengan wajah yang kerap menampilkan senyum manisnya.

Terlihat mudah, namun tidak semuanya dapat melakukan, lantaran untuk menghasilkan air nira dengan citarasa sangat mempengaruhi dari proses pengambilan. Hal itu juga telah dibuktikan oleh anaknya Lek Ngadiman namun hasilnya nihil bahkan air nira tidak keluar.

Setelah proses pengambilan air nira selesai, Lek Ngadiman kembali ke rumahnya dan langsung bergegas ke dapur. Satu per satu kayu bakar yang telah disediakan diambil, api kecil pun mulai dihidupkannya hingga menempatkan wajan di atasnya, kemudian dituangkan air nira untuk dimasak dijadikan manisan.

Baca Juga  Kapolres Tinjau Rapat Pleno Rekapitulasi Suara Pilkada Lhokseumawe

Usai melalui proses yang cukup lama, manisan yang telah jadi dibungkus ke dalam plastik berukuran satu kilogram, yang kemudian dijual ke pasar Alue Ie Mirah dengan harga Rp 20 ribu per kilogram.

Lek Ngadiman juga menceritakan, bahwa dirinya telah 20 tahun menggeluti pekerjaan tersebut, namun dulunya hanya dijadikan sebagai usaha sampingan lantaran kerja utamanya adalah sebagai penderes getah karet.

Seiring berjalannya waktu di masa senjanya, pohon karet itu telah tiada lagi, sehingga Lek Ngadiman hanya bergantung pendapatan dari tetesan dua pohon aren untuk kebutuhan sehari-hari bersama dengan istrinya.

“Kita hanya berharap, semoga adanya perhatian dari pemerintah untuk pembuatan gula aren, karena selama ini saya belum mengetahui bagaimana cara pembuatan gula aren yang mungkin harganya lebih mahal dari manisan,” tutup Lek Ngadiman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *