Dari Panggung Suara Kritis ke Pekerja Kemanusiaan

Aceh Tamiang | Fokusinspirasi.com – Lama tak terdengar kabarnya di blantika musik, nama Maimunzir—yang dulu dikenal dengan sapaan akrab Bang Gaes—sempat menjadi tanda tanya bagi para penikmat karyanya.

Sosok yang dikenal lantang mengkritik lewat lagu-lagu seperti Lagu Poh Bandet, Hak Reman, dan Awak Dalam itu, kini memilih jalan yang jauh berbeda dari sorot panggung.

Di sebuah sudut Kabupaten Aceh Tamiang, Bang Gaes menjalani hari-harinya sebagai pekerja kemanusiaan. Tak ada lagi gemerlap lampu panggung atau riuh tepuk tangan penonton. Yang ada kini adalah suara tawa anak-anak, debu halaman sekolah, dan semangat gotong royong yang ia bangun bersama masyarakat.

Baca Juga  Ambulans Puskesmas Tanah Pasir Tak Ada Sopir, Pasien Dirujuk dengan Sepmor

Bersama Yayasan Kelompok Kerja Sosial Perkotaan (KKSP), Bang Gaes mendedikasikan dirinya untuk dunia pendidikan.

Kegiatannya sederhana, namun penuh makna—mengajar, bermain sambil belajar dengan anak-anak, hingga ikut turun tangan membersihkan lingkungan sekolah.

Tak jarang, ia juga terlibat langsung dalam merehabilitasi bangunan sekolah yang rusak serta memperbaiki fasilitas sanitasi yang jauh dari kata layak.

“Saat ini saya nyaman menjadi pekerja kemanusiaan di sini. Bermain sambil belajar dengan anak-anak membuat saya bahagia,” ujarnya dengan nada tenang, jauh dari kesan keras yang dulu kerap terasa dalam lirik-lirik lagunya.

Perubahan jalan hidup ini bukan tanpa alasan. Meski tak banyak bercerita soal masa lalunya, pilihan Bang Gaes seolah menjadi bentuk lain dari perjuangannya—dari menyuarakan keresahan lewat musik, kini menjawabnya dengan aksi nyata di lapangan.

Baca Juga  Jembatan Darurat Putus, Warga Sawang Pertaruhkan Nyawa Setiap Hari

Namun, musik bukanlah sesuatu yang benar-benar ia tinggalkan. Di penghujung pertemuan, sembari menyeruput kopi khas Aceh Tamiang, ia menyiratkan bahwa panggung itu masih akan ia sambangi suatu hari nanti.

“Saya akan kembali bermusik kok, setelah keadaan di sini kembali membaik,” katanya sambil tersenyum.

Bagi Bang Gaes, mungkin panggung bukan lagi sekadar tempat tampil, melainkan ruang untuk kembali bercerita—tentang kehidupan, tentang kemanusiaan, dan tentang perjalanan yang membawanya pulang ke makna yang lebih dalam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *