
Aceh Utara | Fokusinspirasi.com – Warga dari sejumlah desa terpencil di Kecamatan Sawang, Kabupaten Aceh Utara, kembali harus mempertaruhkan nyawa demi menjalankan aktivitas sehari-hari, 02 April 2026.
Mereka terpaksa mengarungi derasnya arus Sungai Krueng Sawang menggunakan rakit boat bantuan Polres Lhokseumawe, setelah akses jalan dan jembatan darurat kembali rusak.
Kerusakan tersebut terjadi akibat derasnya aliran sungai dalam dua hari terakhir, menyusul tingginya intensitas hujan yang melanda kawasan tersebut dan kawasan dataran tinggi. Akibatnya, jalur penghubung darurat utama antar desa terputus total.
![]()
Sejumlah desa terdampak di antaranya Desa Lhok Cut, Blang Cut, Kubu, hingga Desa Gunci. Warga di wilayah ini kini tidak memiliki pilihan lain selain menggunakan rakit untuk menyeberang demi memenuhi kebutuhan hidup.
Rakit yang digunakan merupakan papan sederhana yang dimodifikasi dengan perahu karet milik kepolisian. Meski jauh dari kata aman, alat ini menjadi satu-satunya sarana transportasi bagi warga untuk beraktivitas.
Kepala Desa Kubu, Iswandi, mengungkapkan kondisi ini sangat membatasi aktivitas masyarakat. Selain itu, derasnya arus sungai juga meningkatkan risiko kecelakaan bagi warga yang menyeberang.
“Situasi ini sangat berbahaya. Warga terpaksa tetap menyeberang karena tidak ada alternatif lain,” ujarnya.
Untuk menggunakan rakit tersebut, warga harus mengeluarkan biaya antara Rp5.000 hingga Rp15.000 sekali menyeberang. Sementara jika memilih jalur darat alternatif, warga harus menempuh perjalanan berjam-jam melalui Kecamatan Makmur, Kabupaten Bireuen, hanya untuk mencapai pusat Kecamatan Sawang.
Rakit tersebut tidak hanya digunakan untuk mobilitas warga, tetapi juga untuk mengangkut hasil perkebunan, serta menjadi akses utama bagi siswa dan guru menuju sekolah.
Kondisi terputusnya akses jalan dan jembatan ini turut berdampak besar terhadap perekonomian warga. Mayoritas masyarakat yang berprofesi sebagai petani kini harus menanggung biaya tambahan untuk distribusi hasil pertanian mereka.
![]()
Warga yang tinggal di seberang Sungai Krueng Sawang berharap pemerintah segera mengambil tindakan konkret dengan membangun jembatan permanen. Pasalnya, jembatan darurat yang sebelumnya dibangun hanya memiliki panjang sekitar 30 meter, sementara lebar sungai saat ini mencapai hampir 200 meter lebih.
Mereka khawatir, tanpa penanganan serius, kondisi ini akan terus berulang dan mengancam keselamatan serta kesejahteraan masyarakat di wilayah terpencil tersebut.