Muara Bersejarah Masa Konflik GAM Kini Nyaris Mati, Warga Mohon Kepedulian Pemerintah

Aceh Utara | Fokusinspirasi.com — Derita nelayan di Kemukiman Blang Mee, Kecamatan Samudera, semakin hari semakin memprihatinkan. Muara Krueng Pasee yang selama puluhan tahun menjadi urat nadi kehidupan masyarakat pesisir kini berubah menjadi simbol kesedihan dan keterlantaran, 13 Mei 2026.

Pendangkalan yang kian parah membuat perahu-perahu nelayan sulit keluar masuk menuju laut. Sementara di sepanjang aliran Krueng Pasee, tanggul-tanggul penahan abrasi tampak rusak, retak, bahkan sebagian sudah ambruk dan nyaris tak berfungsi lagi.

Di tengah kondisi itu, masyarakat hanya bisa berharap adanya kepedulian nyata dari Kementerian Kelautan dan Perikanan agar segera turun langsung melihat penderitaan warga di lapangan.

“Kami tidak mengada-ngada. Silakan bapak-bapak pejabat turun sendiri melihat bagaimana dangkalnya Krueng Pasee dan bagaimana tanggul-tanggul di sini sudah hancur. Kami hidup dari laut, tapi sekarang laut seperti mulai menutup pintunya untuk kami,” ungkap salah seorang nelayan dengan nada penuh haru.

Bagi masyarakat Blang Mee, kondisi ini bukan sekadar persoalan lumpur dan tanggul rusak. Ini adalah ancaman nyata terhadap dapur keluarga nelayan yang setiap hari menggantungkan hidup dari hasil laut. Banyak nelayan kini harus menunggu pasang air untuk bisa melintas, bahkan tidak sedikit yang memilih tidak melaut karena khawatir perahu kandas atau rusak.

Baca Juga  Pertamina Salurkan Seribu Seragam Sekolah untuk Siswa Terdampak Bencana di Aceh

Warga juga mengaku dihantui rasa takut setiap kali hujan deras turun. Sebab, tanggul-tanggul yang sudah rapuh dikhawatirkan sewaktu-waktu ambruk dan menyebabkan air meluap hingga masuk ke kampung-kampung warga di sekitar Krueng Pasee.

“Kalau hujan besar turun, kami sangat takut. Air mulai meluap dan masuk ke pemukiman warga karena sebagian tanggul sudah jebol. Kami khawatir suatu saat nanti kampung kami benar-benar terendam,” ujar warga lainnya dengan penuh kecemasan.

Yang membuat masyarakat semakin kecewa, Muara Krueng Pasee Blang Mee disebut tidak masuk dalam daftar prioritas penanganan sedimentasi muara dan pelabuhan perikanan di Aceh yang sebelumnya direncanakan pemerintah.

“Katanya ada 13 titik yang akan ditangani mulai dari Lampulo sampai Aceh Barat Daya. Tapi kenapa Krueng Pasee Blang Mee seperti dilupakan? Padahal kondisi di sini sangat parah,” kata warga lainnya.

Di balik kesedihan masyarakat hari ini, Krueng Pasee ternyata menyimpan sejarah panjang bagi Aceh pada masa konflik dahulu. Warga menyebut jalur sungai tersebut pernah menjadi akses penting ketika jalur darat sulit dilalui akibat situasi konflik bersenjata.

Baca Juga  Gubernur Aceh Sampaikan Selamat kepada Mendagri atas Anugerah Adat dari Wali Nanggroe

Kala itu, Krueng Pasee menjadi jalur utama transportasi laut untuk membawa korban yang terkena tembakan menuju pengobatan di laut maupun ke wilayah Lhokseumawe. Bahkan masyarakat menyebut jalur tersebut juga pernah menjadi akses penting keluar masuk logistik pada masa konflik.

“Dulu saat konflik, jalan darat tidak bisa dilalui karena pengepungan. Krueng Pasee menjadi harapan masyarakat untuk bertahan hidup. Tapi hari ini, sungai yang punya sejarah besar itu justru seperti dibiarkan mati perlahan,” tutur seorang tokoh masyarakat dengan mata berkaca-kaca.

Kini warga hanya berharap ada perhatian sebelum semuanya benar-benar terlambat. Mereka takut jika tanggul terus dibiarkan rusak, abrasi dan banjir akan semakin menghancurkan kawasan pemukiman warga pesisir.

Bagi masyarakat Blang Mee, memperbaiki Krueng Pasee bukan hanya soal pembangunan fisik. Tetapi tentang menyelamatkan sejarah, menjaga kehidupan nelayan kecil, dan mengembalikan harapan masyarakat yang selama ini merasa dilupakan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *