Kisah Kepala Desa Inspiratif Sulap Lahan Tidur Hasilkan Cuan Hingga Puluhan Juta dari Melon

Aceh Tamiang | Fokusinspirasi.com- Sebuah lahan kecil yang awalnya terbengkalai kini berubah menjadi sumber cuan yang menjanjikan.

Di tangan seorang kepala desa yang tak segan turun langsung ke kebun, buah melon yang manis dan renyah kini tumbuh subur dan mendatangkan rezeki hingga puluhan juta rupiah per musim panen.

Ia adalah Novi, Kepala Desa Kebun Tanjung Seumentoh, Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, yang membuktikan bahwa jabatan bukan penghalang untuk tetap produktif dan kreatif.

Sejak tahun 2013, Novi mulai membudidayakan buah melon di atas lahan tidur seluas satu rantai setengah atau sekitar 600 meter persegi.

Novi, Kepala Desa Kebun Tanjung Seumentoh, Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang. Foto: Irwan

“Awalnya lahan ini kosong saja. Saya berpikir, daripada tidak dimanfaatkan, lebih baik saya coba tanam melon. Ternyata hasilnya luar biasa,” ujarnya sambil tersenyum bangga.

Melon Premium dari Tanah Aceh

Di kebunnya, Novi menanam dua jenis melon unggulan: melon basket dan golden melon. Keduanya termasuk jenis melon premium dengan rasa dan tekstur yang khas. Sekali panen, ia bisa menghasilkan sekitar dua ton buah atau sekitar 1.200 buah melon.

Baca Juga  Dua Saksi Prajurit TNI AL Terancam Beralih Status Jadi Terdakwa

“Kalau yang kuning itu rasanya lebih renyah dan manis. Yang hijau lebih lembut. Tapi keduanya punya penggemar masing-masing,” kata Novi saat menjelaskan.

Proses panen tidak dilakukan sembarangan. Sebelum dipetik, melon-melon itu harus melalui pengujian kadar kemanisan menggunakan alat pengukur khusus. Standar kadar kemanisan (brix) untuk pasar swalayan adalah 12. Namun melon milik Novi bisa mencapai angka 14—bahkan sebelum puncak kematangan.

“Kalau belum rata manisnya, ya belum kita panen. Kita jaga betul kualitasnya,” tambah Novi.

Dari Kampung ke Kota, Melon Laris Manis

Melon hasil kebun Novi tidak hanya dikenal di sekitar kampungnya. Pembeli datang dari berbagai penjuru, termasuk dari luar Aceh seperti Sumatera Utara.

Armilawati, Pembeli melon. Foto: Irwan

Salah satu pelanggan setianya, Armilawati, rutin membeli melon untuk keluarga yang tinggal jauh. “Rasanya beda, apalagi yang kuning. Lebih manis dan renyah. Harganya sekarang Rp18 ribu per buah, tapi tetap saya beli karena kualitasnya sebanding,” katanya.

Baca Juga  UMMAH Wisuda 143 Lulusan, 68 Raih Predikat Cumlaude

Ia bahkan sering mengirimkan melon-melon itu ke sanak saudara yang sudah lama menjadi penggemar rasa khas buah dari Aceh Tamiang ini.

Khaidir Saleh, Mentor pertanian melon. Foto: Irwan

Menurut Khaidir Saleh, mentor pertanian melon yang kerap mendampingi para petani di wilayah tersebut, menjaga kualitas buah adalah hal utama. Ia menekankan pentingnya kontrol kadar kemanisan dan waktu panen yang tepat.

“Kalau brix-nya sudah 12 saja sudah masuk standar swalayan. Tapi melon buk Novi bisa sampai 14. Itu luar biasa. Tinggal tunggu merata saja, baru bisa dipasarkan,” jelas Khaidir.

Dari hasil panen yang dilakukan setiap tiga bulan sekali, Novi bisa meraup keuntungan hingga Rp32 juta. Angka ini tentu cukup fantastis mengingat lahan yang digunakan tidak seberapa luas.

Kisah sukses Novi menjadi bukti bahwa sektor pertanian bisa menjadi peluang besar jika digeluti dengan serius dan inovatif. Di tengah sempitnya lahan dan tantangan ekonomi, lahan tidur pun bisa disulap menjadi ladang emas—asal ada kemauan, pengetahuan, dan keberanian untuk mencoba.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *