Mantan TNA/GAM Soroti Wacana Penyaluran Gas Andaman ke Jawa, Dorong Hilirisasi di Aceh

Foto tahun 2005 Misbahuddin (Marcos), mantan anggota Tentara Nasional Aceh (TNA) Sagoe Malikussaleh, Daerah II Wilayah Samudera Pase. (Foto: Ist)

Banda Aceh | Fokusinspirasi.com — Penemuan cadangan gas raksasa di Blok South Andaman menjadi kabar positif bagi sektor energi nasional. Dengan estimasi cadangan mencapai 8 hingga 10 triliun kaki kubik (TCF), temuan tersebut disebut sebagai salah satu penemuan gas terbesar di Asia Tenggara dalam beberapa dekade terakhir.

Pemerintah pusat menaruh harapan besar terhadap proyek tersebut sebagai salah satu penopang ketahanan dan swasembada energi nasional di masa depan. Saat ini, Mubadala Energy bersama para mitranya terus mempercepat tahapan pengembangan lapangan gas tersebut dengan target produksi awal pada 2028.

Di tengah rencana pengembangan proyek tersebut, muncul berbagai tanggapan dari sejumlah elemen masyarakat Aceh terkait isu penyaluran gas dari Andaman ke Pulau Jawa melalui jaringan pipa.

Salah satunya disampaikan Misbahuddin atau yang akrab disapa Marcos, mantan anggota Tentara Nasional Aceh (TNA) Sagoe Malikussaleh, Daerah II Wilayah Samudera Pase. Ia menilai pengelolaan sumber daya gas di Aceh harus memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat daerah penghasil.

Baca Juga  Pemuda di Tanah Luas Aceh Utara Tertangkap Tangan Saat Main Judi Online

“Dalam beberapa hari terakhir masyarakat Aceh mendengar adanya rencana pembangunan pipa gas Andaman menuju Pulau Jawa. Kami berharap pemerintah pusat mempertimbangkan secara matang kebijakan tersebut dan memastikan manfaat ekonomi yang nyata bagi rakyat Aceh,” kata Marcos dalam keterangannya.

Menurutnya, Aceh selama ini masih menghadapi berbagai persoalan ekonomi dan tingkat kemiskinan yang perlu mendapat perhatian serius. Karena itu, ia meminta pemerintah mengedepankan prinsip keadilan dalam pengelolaan sumber daya alam.

Marcos juga menyatakan dukungannya terhadap upaya hilirisasi industri migas di Aceh. Ia mendorong agar gas dari Blok South Andaman dapat diolah terlebih dahulu di fasilitas yang tersedia di Aceh, termasuk Kilang Arun di Lhokseumawe.

Baca Juga  Peringati Wafat Imam Syafi’i ke-1243 dan Haul Tarbiyah Islamiyah Mazhab Syafi’i ke-12

“Kami mendukung pengelolaan gas Andaman melalui proses hilirisasi di Aceh sehingga mampu menciptakan lapangan kerja baru, menggerakkan perekonomian daerah, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa pengelolaan sumber daya alam yang berpihak pada masyarakat daerah dinilai penting untuk menjaga rasa keadilan dan memperkuat stabilitas sosial di Aceh.

Marcos berharap pemerintah pusat dan seluruh pemangku kepentingan dapat melibatkan masyarakat Aceh dalam proses pengambilan keputusan terkait pengembangan Blok South Andaman, sehingga pemanfaatan sumber daya alam tersebut dapat memberikan manfaat yang optimal bagi daerah maupun kepentingan nasional.

Hingga saat ini, belum ada keputusan resmi pemerintah terkait skema penyaluran gas dari Blok South Andaman, termasuk mengenai rencana pembangunan jaringan pipa menuju wilayah lain di Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *