Ramadan di Tenda Pengungsian: 19 Ribu Lebih Warga Aceh Utara Bertahan Usai Rumah Hanyut Diterjang Banjir

Aceh Utara | Fokusinspirasi.com -Angin sore berembus pelan di antara deretan tenda biru yang berdiri di kebun kelapa sawit. Di sanalah ribuan warga bertahan. Bukan untuk berkemah, melainkan karena rumah mereka telah hilang, terseret arus banjir bandang yang menerjang akhir November 2025 lalu.

Sebanyak 19.236 jiwa dari 5.269 kepala keluarga hingga kini masih hidup di pengungsian. Mereka tersebar di sejumlah kecamatan, seperti Langkahan, Sawang, Tanah Jambo Aye, Muara Batu, Seunuddon, Lapang, dan wilayah lainnya yang terdampak paling parah, (22/02/26).

Di Dusun Kareung, Desa Buket Linteung, Kecamatan Langkahan, 103 keluarga bertahan di tenda darurat yang didirikan di dataran lebih tinggi di tengah kebun sawit.

Tempat itu dipilih karena dianggap paling aman dari ancaman banjir susulan. Namun, aman tak selalu berarti nyaman.

Ramadan 1447 Hijriah kali ini terasa berbeda dan lebih berat. Di balik dinding terpal tipis, para penyintas menjalani sahur dengan penerangan seadanya. Saat malam tiba, mereka menunaikan salat tarawih di posko pengungsian.

Baca Juga  Mualem Dukung Kebijakan Swasembada Pangan Presiden Prabowo

Tak ada lagi ruang tamu untuk berkumpul, tak ada dapur hangat untuk menyiapkan hidangan berbuka. Semua dilakukan dalam keterbatasan.

Halawiyah (69) tak kuasa menyembunyikan kesedihannya. Rumah yang selama puluhan tahun ia tempati bersama anak-anaknya kini hanya tinggal kenangan.

“Ramadan ini paling berat sepanjang hidup saya,” tuturnya lirih.
Hampir tiga bulan tinggal di pengungsian membuat kondisi kesehatannya menurun.
Siang hari, tenda terasa menyengat oleh panas matahari. Malam hari, udara dingin menusuk hingga ke tulang. Di usia senjanya, situasi itu menjadi ujian yang tak ringan.

Di posko tersebut, sebanyak 520 jiwa masih bertahan. Mereka mulai mengeluhkan menipisnya logistik dan pasokan air bersih.

Baca Juga  Pon Yaya Siap Jalankan Amanah sebagai Ketua KPA Samudra Pase

Daya listrik yang belum memadai membuat mesin pompanisasi tak bisa bekerja optimal. Air bersih pun menjadi barang berharga.

Meski demikian, harapan belum padam.
Kepala Dusun Kareung, Muslem, menyebut pembangunan 76 unit hunian sementara (huntara) akan segera dimulai dalam beberapa hari ke depan, tak jauh dari lokasi pengungsian.

Huntara itu diharapkan menjadi tempat bernaung yang lebih layak, terutama bagi lansia dan anak-anak.

Bagi para penyintas, yang mereka inginkan bukan sekadar tempat berteduh. Mereka merindukan rumah, tempat memulai hari tanpa rasa cemas, tempat berbuka puasa bersama keluarga tanpa dihantui trauma kehilangan.

Di tengah hamparan kebun sawit itu, Ramadan tahun ini menjadi saksi ketabahan ribuan warga yang mencoba bangkit dari kehilangan. Mereka bertahan, dengan doa yang tak pernah putus agar dapat kembali hidup normal secepatnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *