![]()
NUSAKAMBANGAN | Fokusinspirasi.com– Pulau Nusakambangan tak hanya dikenal sebagai lokasi Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) berkeamanan tinggi. Kini, pulau tersebut juga menjadi saksi gebrakan baru Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Kemenimipas) dalam mewujudkan kemandirian pangan nasional.
Pada Kamis (17/4), Menteri Kemenimipas, Agus Andrianto, memimpin langsung panen perdana padi varietas inpari di Lapas Terbuka Nusakambangan. Padi hasil tanam 18 Warga Binaan di atas lahan dua hektare itu diperkirakan menghasilkan tujuh ton gabah—sebuah pencapaian awal dari program ambisius ketahanan pangan yang segera diluncurkan secara nasional.
“Ini bukan sekadar panen. Ini adalah evaluasi awal dan bukti bahwa Lapas punya potensi luar biasa untuk mendukung ketahanan pangan nasional,” tegas Agus.
Tak hanya padi, Menteri Agus juga memanen jagung hibrida di Lapas Gladakan dan meninjau berbagai unit pembinaan produktif: dari peternakan domba dan ayam arab, hingga kolam ikan nila dan bawal. Semua digarap oleh para Warga Binaan sebagai bagian dari pembinaan kemandirian.
Lapas Bukan Lagi Tempat Pengasingan, Tapi Lahan Produktif
Transformasi Lapas menjadi pusat pelatihan dan produksi ini sejalan dengan salah satu dari 13 Program Akselerasi Kemenimipas. Selain memperkuat ketahanan pangan, program ini membekali Warga Binaan dengan keterampilan nyata agar siap mandiri usai masa hukuman.
“Kami ingin saat mereka kembali ke masyarakat, mereka tidak hanya bebas, tapi juga siap berkontribusi,” tambah Agus.
Lebih dari itu, Kemenimipas mewajibkan setiap Lapas membeli minimal 5% bahan pangan dari hasil produksi para Warga Binaan. Langkah ini menciptakan ekosistem produksi dan konsumsi internal yang berkelanjutan.
Direktur Jenderal Pemasyarakatan, Mashudi, menegaskan bahwa dari 532 Lapas dan Rutan di Indonesia, semuanya harus mengoptimalkan lahan atau memanfaatkan urban farming bagi yang tak memiliki lahan.
“Banyak produk Lapas yang sudah diminati pasar domestik dan internasional. Bahkan, ada yang berpotensi ekspor,” katanya.
Pelatihan-pelatihan seperti konveksi, pertanian, hingga budidaya perikanan telah menunjukkan dampak nyata. “Ada Warga Binaan yang memilih tetap tinggal dan bekerja setelah bebas karena sudah merasa memiliki masa depan di sini,” ungkap Mashudi.
Daur Ulang Limbah Jadi Peluang Ekonomi
Kemenimipas juga menggandeng PLN dalam memanfaatkan limbah batu bara jenis Fly Ash and Bottom Ash (FABA). Limbah ini diolah menjadi produk bernilai seperti batako, paving block, hingga pemecah gelombang laut—dipasarkan ke Cilacap dan Purwokerto.
Sebagai penutup kunjungan, Menteri Agus meresmikan Training Center Lapas Batu Nusakambangan, hasil kolaborasi dengan Yayasan Penerimaan Internasional Indonesia dan Pemerintah Jepang.
Fasilitas ini diharapkan memperkuat kapasitas SDM petugas pemasyarakatan di Nusakambangan.
Hadir dalam rangkaian kegiatan ini sejumlah pejabat tinggi Kemenimipas, termasuk Sekretaris Jenderal, Kepala BPSDM, dan Kepala Kantor Wilayah Dirjenpas Jawa Tengah.