Tertawa di Pengungsian: Upaya Selamatkan Anak-anak dari Trauma Banjir Aceh Utara

Relawan menghibur ratusan anak-anak di lokasi pengungsian di Desa Buket Linteng, Kecamatan Langkahan, Aceh utara. (Foto: RM)

Aceh Utara | Fokusinspirasi.com – Anak-anak menjadi kelompok paling rentan dalam bencana banjir bandang yang melanda Aceh Utara. Selain kehilangan rumah dan lingkungan bermain, mereka juga menghadapi risiko trauma psikologis akibat peristiwa ekstrem yang dialami secara langsung.

Kondisi ini mendorong Yayasan Solidaritas Aksi Peduli (YSAP) turun langsung memberikan dukungan psikososial dan pertolongan pertama psikologis bagi anak-anak pengungsi di Desa Buket Linteng, Kecamatan Langkahan, (22/12/25).

Desa Buket Linteng merupakan salah satu wilayah terdampak terparah. Banjir bandang dengan ketinggian air mencapai tiang listrik, bahkan melewati meratakan hampir seluruh permukiman warga.

Sekitar 98 persen rumah hilang disapu banjir, menyebabkan ribuan warga, termasuk anak-anak, kehilangan tempat tinggal dan harus bertahan di pengungsian dibawah terpal tanpa lampu penerang selama hampir satu bulan.

Di tengah keterbatasan fasilitas pengungsian, anak-anak pengungsi menghadapi risiko gangguan psikososial yang tinggi, mulai dari kecemasan, ketakutan berlebihan, hingga kehilangan motivasi belajar.

Baca Juga  Mahfud MD Usul Pemerintah Bentuk Satgas Pencari Fakta Kasus Pagar Laut

Kehadiran relawan YSAP membawa ruang aman sementara bagi anak-anak melalui pendekatan Psychological First Aid (PFA).

Relawan memberikan pendampingan dengan metode ramah anak, seperti aktivitas bermain, bercerita, serta komunikasi empatik, untuk membantu anak-anak kembali merasa aman dan tenang.

Pendekatan ini bertujuan mencegah trauma berkepanjangan yang dapat berdampak pada tumbuh kembang dan masa depan anak.

“Dalam situasi bencana, perlindungan anak harus menjadi prioritas. Trauma yang tidak ditangani sejak awal dapat meninggalkan dampak jangka panjang,” ujar Rahel salah satu relawan YSAP di lokasi pengungsian.

Harapan akan masa depan tetap tersimpan di tengah kondisi darurat. Salah seorang pengungsi, Eka Julia Nanda kelas 2 SD, menyampaikan kekhawatirannya terhadap keberlanjutan pendidikan anak-anak di pengungsian. Sementara itu, Niswa kelas 1 SD, anak pengungsi, mengaku kembali merasa senang setelah mengikuti kegiatan bermain bersama relawan.

YSAP Foundation merupakan lembaga swadaya masyarakat yang fokus pada isu kebencanaan dan perlindungan anak di Aceh. Melalui kegiatan ini, YSAP mendorong negara dan pemerintah daerah untuk memastikan pemenuhan hak-hak dasar anak korban bencana, termasuk perlindungan, pendidikan, dan layanan kesehatan mental.

Baca Juga  Harimau Santai di Kebun Cabai Gegerkan Warga

Founder dan Direktur Eksekutif YSAP, Agustia Rahmi, menegaskan bahwa penanganan bencana tidak boleh berhenti pada pemenuhan kebutuhan logistik.

“Anak-anak penyintas bencana membutuhkan ruang aman, pendampingan, dan kepastian keberlanjutan pendidikan agar mereka tidak menjadi korban jangka panjang dari bencana,” ujarnya.

Selain pendampingan psikososial, YSAP juga menyalurkan bantuan kebutuhan dasar bagi pengungsi, seperti sembako, pakaian layak pakai, selimut, perlengkapan ibadah, serta kebutuhan khusus anak-anak.

Hingga kini, ribuan warga Aceh Utara masih mengungsi di sejumlah titik. Penanganan berkelanjutan yang berperspektif perlindungan anak dinilai krusial agar proses pemulihan pascabencana tidak meninggalkan generasi yang terluka secara psikologis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *