Pemerintah Aceh Perkuat Pendidikan Islam Berbasis AI dan Kearifan Lokal untuk Wujudkan Generasi Emas 2045

 

Banda Aceh | Fokusinspirasi.com – Pemerintah Aceh terus memperkuat pembangunan sumber daya manusia melalui pendidikan Islam yang adaptif terhadap perkembangan Artificial Intelligence (AI), namun tetap berlandaskan nilai-nilai Islam dan kearifan lokal Aceh sebagai fondasi dalam mewujudkan Generasi Emas Indonesia 2045.

Komitmen tersebut disampaikan Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, melalui Kepala Dinas Syariat Islam Aceh, Dr. Misran Fuadi, S.Ag., M.AP., saat menghadiri Pelantikan Pengurus Wilayah Aceh Ikatan Guru dan Dosen Al-Washliyah (IGDA) sekaligus membuka Seminar Nasional bertema “Kurikulum Pendidikan Islam dan Tantangan Teknologi AI dalam Membentuk Generasi Emas dalam Perspektif Local Wisdom Keacehan” di Aula Dinas Syariat Islam Aceh, Minggu (26/7).

Dalam sambutan Gubernur yang dibacakan Misran Fuadi, ditegaskan bahwa perkembangan AI menghadirkan peluang besar untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, memperluas akses terhadap ilmu pengetahuan, serta mendorong lahirnya inovasi dan riset di bidang pendidikan. Namun, pemanfaatan teknologi tersebut harus diimbangi dengan penguatan karakter, akhlak, dan nilai-nilai keislaman agar menjadi instrumen kemajuan peradaban, bukan sekadar kemajuan teknologi.

“Pendidikan Islam memiliki peran strategis dalam mencetak generasi yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga beriman, berakhlak mulia, berintegritas, serta mampu memanfaatkan teknologi secara bijaksana dan bertanggung jawab,” ujar Misran Fuadi saat membacakan sambutan Gubernur Aceh.

Baca Juga  Sayembara Tangkap Maling di Aceh Utara Berhadiahkan Jutaan Rupiah

Pemerintah Aceh, lanjutnya, menaruh harapan besar kepada kepengurusan baru IGDA Aceh agar mampu menjadi mitra strategis dalam meningkatkan mutu pendidikan Islam, memperkuat dakwah intelektual, serta melahirkan sumber daya manusia yang unggul, adaptif, dan mampu bersaing di tingkat global tanpa kehilangan identitas keacehan.

Dalam sambutan tersebut juga ditegaskan bahwa Aceh memiliki modal sosial dan budaya yang sangat kuat, yakni nilai-nilai Islam dan kearifan lokal yang telah menjadi pedoman kehidupan masyarakat selama berabad-abad. Filosofi Adat bak Po Teumeureuhom, Hukom bak Syiah Kuala, Qanun bak Putroe Phang, Reusam bak Laksamana merupakan warisan yang harus terus diinternalisasikan ke dalam sistem pendidikan agar tetap relevan menghadapi dinamika perkembangan zaman.

Karena itu, Pemerintah Aceh mengajak perguruan tinggi, organisasi profesi guru dan dosen, pesantren, sekolah, serta seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat kolaborasi dalam membangun ekosistem pendidikan Islam yang inovatif, berkualitas, dan mampu mengoptimalkan pemanfaatan AI tanpa mengabaikan nilai-nilai lokal yang menjadi jati diri Aceh.

Seminar nasional tersebut diharapkan melahirkan berbagai gagasan dan rekomendasi strategis sebagai masukan bagi penyusunan kebijakan pendidikan Islam di Aceh. Dengan demikian, sistem pendidikan di Aceh diharapkan mampu menjawab tantangan era digital sekaligus berkontribusi dalam mewujudkan Generasi Emas Indonesia 2045.

Baca Juga  Program Magister Ilmu Komunikasi Unimal Buka Pendaftaran Sejak 7 Agustus 2025

Usai kegiatan, Kepala Dinas Syariat Islam Aceh, Misran Fuadi, menegaskan bahwa arah pembangunan pendidikan di Aceh tidak semata-mata berorientasi pada penguasaan teknologi, tetapi juga pada pembentukan karakter generasi muda yang berlandaskan syariat Islam.

“Penguasaan AI harus berjalan seiring dengan penguatan akhlak, moral, dan nilai-nilai Islam. Aceh harus mampu melahirkan generasi yang cakap menghadapi kemajuan teknologi, namun tetap menjunjung tinggi syariat Islam, budaya, dan jati diri daerah. Itulah komitmen Pemerintah Aceh dalam membangun pendidikan menuju Generasi Emas 2045,” tegas Misran.

Ia berharap kepengurusan baru IGDA Aceh dapat menjadi motor penggerak peningkatan profesionalisme guru dan dosen, mendorong inovasi pembelajaran, serta memperkuat kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan lembaga pendidikan dalam mewujudkan pendidikan Islam yang unggul, adaptif, dan berdaya saing di tengah transformasi digital.

Dinas Syariat Islam Aceh berkomitmen untuk terus mendorong lahirnya kebijakan dan program pendidikan Islam yang responsif terhadap perkembangan teknologi, sekaligus memastikan nilai-nilai syariat Islam dan kearifan lokal Aceh tetap menjadi landasan utama dalam membangun generasi masa depan yang unggul, berkarakter, dan berdaya saing.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *