![]()
Aceh Tengah | Fokusinspirasi.com- Fenomena lubang raksasa yang muncul di Desa Pondok Balik, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, Aceh, kian hari semakin mengkhawatirkan, (03/03/26).
Lubang yang awalnya hanya berupa amblesan tanah kini terus melebar dan meluas, menggerus lahan warga serta mengancam akses vital antarwilayah.
Warga menyebut, dalam kondisi normal lubang tersebut bisa bertambah lebar sekitar 5 hingga 7 meter per hari. Saat hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi mengguyur kawasan itu, perluasannya bahkan bisa lebih cepat.
Saat ini, luas area terdampak diperkirakan telah melampaui lima hektare.
Dampak paling nyata terlihat pada akses jalan penghubung antara Kecamatan Ketol di Kabupaten Aceh Tengah dan Kecamatan Wih Pesam di Kabupaten Bener Meriah.
Setelah sebelumnya memutuskan jalan utama, lubang raksasa itu kini kembali memutus jalur alternatif warga. Akibatnya, masyarakat terpaksa membuka kembali jalur baru agar aktivitas perekonomian tidak lumpuh total.
Tak hanya infrastruktur, sumber penghidupan warga pun terancam. Sejumlah kebun cabai, kentang, tanaman hortikultura, hingga kebun kopi mulai ambles dan perlahan hilang ke dalam lubang.
![]()
Salah satu kebun yang kini berada di ujung ancaman adalah milik Usman AB, petani kopi setempat.
Jarak kebunnya kini hanya sekitar dua setengah meter dari titik longsoran aktif.
Setiap hari, ia hanya bisa menyaksikan tanah di sekitar lahannya terus tergerus.
Dengan nada pasrah, Usman mengaku telah menggarap kebun kopi tersebut selama lebih dari 30 tahun. Dari hasil kebun itulah ia membiayai pendidikan anak-anaknya hingga berhasil mandiri.
Kini, ia hanya bisa berharap keajaiban agar kebun yang menjadi sumber kehidupan keluarganya itu tetap utuh.
“Saya hanya berharap ada penanganan segera. Jangan sampai kebun-kebun warga lain ikut hilang, apalagi rumah warga yang semakin dekat dengan lokasi,” ujarnya.
Menurut warga, salah satu faktor yang mempercepat meluasnya lubang raksasa adalah aliran air pembuangan yang masih aktif di sekitar area tersebut.
Rembesan dari drainase diduga memicu longsoran terus terjadi, terutama saat curah hujan meningkat.
Warga berharap pemerintah daerah dan pihak terkait segera turun tangan melakukan kajian serta penanganan serius.
Jika tidak, fenomena alam ini dikhawatirkan akan semakin meluas dan menelan lebih banyak lahan produktif serta mengancam keselamatan permukiman di sekitarnya.
Untuk mencegah risiko lebih besar, pemerintah daerah bersama Kementerian Pekerjaan Umum melakukan pemantauan intensif di lokasi terdampak.
Petugas juga telah memasang pembatas di sekitar area lubang guna mengurangi potensi kecelakaan.
Mulyadi, petugas dari Kementerian Pekerjaan Umum, menyebut kondisi tanah di kawasan tersebut masih sangat labil sehingga potensi longsor susulan masih tinggi.
“Kami mengimbau masyarakat untuk tidak mendekati lokasi dan mematuhi batas aman yang telah ditentukan. Kondisi tanah masih bergerak dan berisiko,” jelasnya.
Pemerintah, lanjutnya, terus melakukan kajian teknis untuk menentukan langkah penanganan lanjutan. Upaya tersebut dilakukan guna mencegah dampak yang lebih luas terhadap lingkungan serta masyarakat sekitar.
Warga kini hanya bisa berharap penanganan cepat dan tepat segera direalisasikan, sebelum lubang raksasa itu semakin meluas dan menelan lebih banyak lahan produktif maupun permukiman.