Krisis Moral di Tengah Ledakan Digital

Dr. Abdul Mugni, MA, Dosen IAIN Lhokseumawe. (Foto: Ist)

Oleh: Abdul Mugni

Aceh | Fokusinspirasi.com-  Kita sedang hidup dalam sebuah paradoks besar. Teknologi berkembang dengan kecepatan yang hampir tidak mampu dikejar oleh manusia. Informasi bergerak dalam hitungan detik, komunikasi tidak lagi mengenal batas geografis, dan dunia seolah berada dalam genggaman tangan. 

Namun, di tengah kemajuan itu, muncul pertanyaan yang semakin sulit dihindari, apakah kemajuan teknologi juga diikuti oleh kemajuan moral manusia? 
Pertanyaan tersebut menjadi penting karena ruang digital kini bukan lagi sekadar tempat untuk bertukar informasi. 

Media sosial telah berubah menjadi ruang kehidupan kedua. Manusia bekerja, belajar, berdagang, mencari hiburan, membangun relasi, menyampaikan pendapat, bahkan mencari pengakuan melalui layar. 

Apa yang dahulu berlangsung di ruang keluarga, warung kopi, sekolah, kampus, dan lingkungan masyarakat, kini sebagian besar berpindah ke ruang digital. Persoalannya, ruang digital tidak selalu membawa nilai-nilai kehidupan nyata ke dalamnya. 

Sebaliknya, media sosial melahirkan budaya baru yang menjadikan kecepatan lebih penting daripada ketepatan, popularitas lebih penting daripada kualitas, dan viralitas lebih penting daripada moralitas. Di sinilah persoalan moral mulai menemukan bentuk barunya.
Ketika Jempol Menjadi Senjata
Perubahan paling sederhana dapat dilihat dari cara manusia berbicara. 

Dahulu, ketika seseorang menghina orang lain, ia harus berhadapan langsung dengan wajah orang yang dihina. Ada ekspresi yang terlihat, ada perasaan yang dapat dirasakan, dan ada konsekuensi sosial yang harus dipertanggungjawabkan. 

Kini cukup dengan sebuah akun dan beberapa sentuhan jari, seseorang dapat menyebarkan penghinaan kepada ribuan bahkan jutaan orang. Komentar kasar, perundungan digital, fitnah, ujaran kebencian, dan penyebaran informasi yang belum terverifikasi menjadi bagian dari keseharian. 

Ironisnya, sebagian orang menganggapnya sebagai hiburan. Kita mulai kehilangan sesuatu yang sangat mendasar dalam komunikasi yaitu empati. Ketika komunikasi berlangsung melalui layar, manusia tidak selalu melihat manusia lain sebagai manusia. Ia hanya melihat sebuah akun, foto profil, atau nama pengguna. Jarak digital membuat penderitaan orang lain terasa jauh dan abstrak. 
Karena itu, persoalan terbesar ruang digital sebenarnya bukan teknologi. Persoalannya adalah manusia yang menggunakan teknologi tanpa kedewasaan moral.

Baca Juga  Program “Jaya Sakti Menyapa”, Satgas Yonif 113/JS Rangkul Masyarakat Pedalaman Homeyo Papua Tengah

Viral Mengalahkan Benar

Masyarakat digital juga memperkenalkan ukuran baru tentang keberhasilan yaitu viralitas. Sebuah konten dianggap penting karena banyak ditonton. Sebuah pernyataan dianggap benar karena banyak dibagikan. 
Seseorang dianggap populer karena memiliki banyak pengikut. Padahal, jumlah penonton tidak selalu menunjukkan kualitas. Banyaknya likes tidak selalu menunjukkan kebenaran. Popularitas tidak selalu identik dengan keteladanan.

Dalam situasi seperti ini, muncul kecenderungan untuk melakukan apa saja agar mendapatkan perhatian. Konten dibuat semakin sensasional, kehidupan pribadi dipertontonkan, konflik dipertajam, bahkan persoalan orang lain dijadikan bahan hiburan. 
Kita kemudian sampai pada sebuah keadaan yang mengkhawatirkan, masyarakat tidak lagi hanya mengonsumsi informasi, tetapi juga mengonsumsi kehidupan manusia lain sebagai tontonan. 

Di sinilah moral menghadapi ujian. Sebab moral pada dasarnya mengajarkan manusia untuk mengetahui batas: mana yang pantas dilakukan dan mana yang harus ditahan, mana yang boleh disampaikan dan mana yang sebaiknya disimpan, mana yang menjadi hak publik dan mana yang merupakan privasi seseorang.

Namun algoritma digital bekerja dengan logika yang berbeda. Algoritma menyukai perhatian. Semakin lama seseorang menonton, semakin banyak interaksi yang terjadi, semakin tinggi pula nilai sebuah konten dalam ekosistem digital. 

Maka muncullah pertarungan antara logika algoritma dan logika moral. Algoritma bertanya Apakah ini menarik? Moral bertanya Apakah ini benar dan baik? Keduanya tidak selalu menghasilkan jawaban yang sama.

Budaya Pamer dan Krisis Ukuran Diri
Persoalan lain yang berkembang di ruang digital adalah budaya pamer atau flexing. Kehidupan yang dahulu bersifat pribadi kini dapat dipertontonkan kepada publik. 
Mobil, rumah, perjalanan, pakaian, makanan, jabatan, bahkan kehidupan keluarga menjadi bagian dari pertunjukan digital. 

Tidak semua orang yang membagikan kehidupannya sedang melakukan kesalahan. Berbagi pengalaman tentu merupakan bagian dari kebebasan berekspresi. 

Persoalannya muncul ketika kehidupan mulai diukur berdasarkan pengakuan orang lain. Manusia mulai bertanya bukan lagi “Apakah saya bahagia?” melainkan “Apakah orang lain melihat saya sebagai orang yang bahagia?” 
Perubahan pertanyaan ini sangat penting. Sebab ketika nilai diri bergantung pada pandangan publik, manusia akan terus membutuhkan validasi. Ia menjadi gelisah ketika tidak mendapatkan perhatian, kecewa ketika jumlah likes menurun, dan merasa rendah diri ketika kehidupannya tidak semewah kehidupan orang lain yang tampil di media sosial.

Baca Juga  Huntara Memakai Alas Tikar

Padahal, yang terlihat di media sosial sering kali hanyalah bagian terbaik dari kehidupan seseorang. Kita membandingkan kehidupan nyata kita dengan kehidupan orang lain yang telah dipilih, disunting, dan dipoles. 
Akibatnya, masyarakat digital berpotensi mengalami kemiskinan yang tidak selalu berbentuk materi, tetapi berupa kemiskinan rasa cukup. Krisis Moral atau Krisis Pendidikan? 
Kita sering menyebut fenomena tersebut sebagai krisis moral generasi muda. Namun, menyalahkan generasi muda saja tentu terlalu sederhana. 

Generasi muda tumbuh dalam lingkungan sosial yang memang berubah. Mereka lahir dan berkembang ketika internet telah menjadi bagian dari kehidupan. Mereka belajar dari keluarga, guru, teman, tetapi juga dari influencer, algoritma, komunitas virtual, dan jutaan konten yang muncul setiap hari. 

Karena itu, pertanyaan yang lebih tepat bukan hanya “Mengapa moral anak muda semakin buruk?”Tetapi “Siapa yang sedang mendidik mereka ketika ruang digital menjadi salah satu ruang sosial terbesar dalam kehidupan mereka?”.

Keluarga memiliki tanggung jawab. Sekolah dan kampus memiliki tanggung jawab. Tokoh agama memiliki tanggung jawab. Pemerintah memiliki tanggung jawab. Media juga memiliki tanggung jawab. Pendidikan moral tidak cukup hanya mengajarkan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. 

Generasi digital membutuhkan kemampuan untuk berpikir sebelum membagikan, mempertimbangkan sebelum berkomentar, dan menilai sebelum mempercayai. 
Dengan kata lain, masyarakat membutuhkan bukan hanya literasi digital, tetapi literasi moral digital.

Penulis: Dr. Abdul Mugni, MA, Dosen IAIN Lhokseumawe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *