![]()
Oleh: Fohan Muzakir, M.Sos, Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Mahakarya Aceh (UMMAH)
Aceh | Fokusinspirasi.com – RUANG kelas hari ini telah berubah total. Papan tulis kayu berganti menjadi layar interaktif, dan buku teks cetak bertransformasi menjadi gawai di genggaman tangan setiap siswa.
Secara kasat mata, digitalisasi ini tampak seperti sebuah lompatan besar menuju modernisasi pendidikan. Namun, jika kita membedahnya dari kacamata komunikasi, ada sebuah paradoks besar yang sedang terjadi: para siswa saat ini tenggelam dalam lautan informasi, tetapi kelaparan akan edukasi yang substansial.
Kemudahan akses data ternyata tidak otomatis berbanding lurus dengan kecerdasan dalam memproses pesan. Di sinilah tantangan nyata digital literacy (literasi digital) menuntut perhatian kita lebih dari sekadar urusan kecanggihan infrastruktur.
Terjebak pada Keterampilan Teknis
Selama ini, pemahaman kita tentang literasi digital sering kali terjebak pada dimensi teknis. Kita menganggap anak didik sudah literat digital hanya karena mereka mahir mengoperasikan gawai, mencari bahan tugas di mesin pencari, atau menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk merangkum teks.
Esensi dari literasi digital dalam ilmu komunikasi adalah kemampuan kritis untuk menyaring, mengevaluasi, dan memproduksi pesan secara bertanggung jawab. Ruang kelas modern kita justru sedang menghadapi krisis resepsi pesan.
Siswa dengan sangat mudah mengonsumsi informasi tanpa mempertanyakan validitasnya, sehingga bias informasi, hoaks akademis, dan plagiarisme digital menjadi pemandangan yang lumrah.
Krisis Perhatian dan Gangguan Algoritma
Tantangan ini diperparah oleh berubahnya pola komunikasi di ruang kelas yang kini bersifat asinkronus dan termutilasi oleh algoritma media sosial. Rentang perhatian (attention span) generasi Z dan Alpha yang semakin pendek membuat komunikasi pembelajaran yang mendalam menjadi sangat sulit dibangun.
Informasi yang diterima di kelas bersaing ketat dengan notifikasi hiburan di gawai mereka yang jauh lebih komunikatif dan persuasif. Akibatnya, proses transfer pengetahuan tidak lagi berjalan dua arah secara bermakna, melainkan hanya menjadi aktivitas mekanis memindahkan teks digital dari internet ke lembar tugas tanpa ada proses internalisasi nilai.
Guru Sebagai Kurator Informasi
Transformasi pendidikan di era digital tidak boleh berhenti pada pengadaan alat, melainkan pada pembenahan kurikulum komunikasi itu sendiri.
Guru tidak lagi bisa memosisikan diri sebagai satu-satunya sumber informasi, melainkan harus naik kelas menjadi seorang fasilitator dan kurator informasi. Siswa harus diajarkan cara kerja algoritma, cara mendeteksi bias berita, serta etika berkomunikasi di ruang siber.
Literasi digital bukan lagi sekadar keterampilan tambahan di kelas komputer, melainkan fondasi utama pertahanan kognitif generasi masa depan. Tanpa adanya literasi digital yang kritis, ruang kelas modern hanya akan melahirkan robot-robot penghafal data yang gagal memahami realitas sosial di sekitarnya.
Penulis:
Fohan Muzakir, M.Sos, Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Mahakarya Aceh (UMMAH)