<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Pendidikan Archives - Fokus Inspirasi</title>
	<atom:link href="https://fokusinspirasi.com/category/pendidikan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://fokusinspirasi.com/category/pendidikan/</link>
	<description>Cepat, Akurat dan Terpercaya</description>
	<lastBuildDate>Tue, 24 Mar 2026 22:59:04 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://fokusinspirasi.com/wp-content/uploads/2025/01/cropped-ACTION14-90x90.png</url>
	<title>Pendidikan Archives - Fokus Inspirasi</title>
	<link>https://fokusinspirasi.com/category/pendidikan/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">239717873</site>	<item>
		<title>Musabaqah Tilawatil Qur&#8217;an Menggema di Simpang Keuramat: Generasi Muda Didorong Tak Ulangi Sejarah Andalusia</title>
		<link>https://fokusinspirasi.com/musabaqah-tilawatil-quran-menggema-di-simpang-keuramat-generasi-muda-didorong-tak-ulangi-sejarah-andalusia/</link>
					<comments>https://fokusinspirasi.com/musabaqah-tilawatil-quran-menggema-di-simpang-keuramat-generasi-muda-didorong-tak-ulangi-sejarah-andalusia/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Fokus Inspirasi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 24 Mar 2026 22:59:04 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://fokusinspirasi.com/?p=11492</guid>

					<description><![CDATA[<p>Aceh utara &#124; Fokusinspirasi.com— Suasana religius dan penuh semangat terasa kuat dalam <a class="read-more" href="https://fokusinspirasi.com/musabaqah-tilawatil-quran-menggema-di-simpang-keuramat-generasi-muda-didorong-tak-ulangi-sejarah-andalusia/" title="Musabaqah Tilawatil Qur&#8217;an Menggema di Simpang Keuramat: Generasi Muda Didorong Tak Ulangi Sejarah Andalusia" itemprop="url"></a></p>
<p>The post <a href="https://fokusinspirasi.com/musabaqah-tilawatil-quran-menggema-di-simpang-keuramat-generasi-muda-didorong-tak-ulangi-sejarah-andalusia/">Musabaqah Tilawatil Qur&#8217;an Menggema di Simpang Keuramat: Generasi Muda Didorong Tak Ulangi Sejarah Andalusia</a> appeared first on <a href="https://fokusinspirasi.com">Fokus Inspirasi</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img fetchpriority="high" decoding="async" class="alignnone size-full wp-image-11493" src="https://fokusinspirasi.com/wp-content/uploads/2026/03/IMG-20260325-WA0008.jpg" alt="" width="3520" height="1986" /></p>
<p><strong>Aceh utara | Fokusinspirasi.com—</strong> Suasana religius dan penuh semangat terasa kuat dalam gelaran Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) yang menjadi puncak rangkaian kegiatan Haul ISKAT ke-7 yang diselenggarakan oleh Ikatan Santri Simpang Keuramat (ISKAT).</p>
<p>Kegiatan tahunan ini bukan sekadar ajang perlombaan, melainkan wadah pembinaan generasi muda agar tetap kokoh dalam nilai-nilai keislaman dan kehidupan bermasyarakat.</p>
<p>Sejak awal Ramadhan, ISKAT telah aktif menggelar safari dakwah ke 15 titik yang meliputi meunasah, mushalla, dan masjid di wilayah Kecamatan Simpang Keuramat.</p>
<p>Dalam safari tersebut, ISKAT mengajak masyarakat untuk meningkatkan ketaatan kepada Allah SWT serta memperbaiki akhlak sebagai fondasi utama kehidupan.</p>
<p>Ketua panitia, Tgk. Muhammad Ilham, dalam laporannya menegaskan pentingnya dukungan seluruh elemen masyarakat. Ia mengingatkan bahwa tanpa upaya bersama dalam menjaga tradisi keilmuan dan nilai-nilai Islam, bukan tidak mungkin daerah yang dikenal kuat dalam syariat seperti Aceh, khususnya Simpang Keuramat akan mengalami kemunduran sebagaimana yang pernah terjadi di kota <strong>Andalusia</strong>.</p>
<p>“Jika kegiatan seperti ini tidak terus digalakkan, kita khawatir sejarah besar seperti <strong>Andalusia</strong>, yang dulunya <strong>pusat peradaban Islam</strong>, akan terulang kembali dalam bentuk kemunduran moral dan keilmuan,” ujarnya.</p>
<p>Pembukaan acara yang berlangsung pada Selasa malam, 24 Maret, diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Tgk. Ziaulhak, dilanjutkan sambutan dari berbagai tokoh. Ketua Forum Geuchik Simpang Keuramat menekankan pentingnya peran orang tua, aparatur gampong, dan seluruh masyarakat dalam mendorong anak-anak untuk aktif mengikuti kegiatan keagamaan.<br />
Ia juga mengingatkan bahwa pendidikan agama harus dimulai sejak dini melalui balai-balai pengajian atau pesantren, agar lahir generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berakhlak mulia.</p>
<p>Kapolsek Simpang Keuramat, IPTU M. Nazir, yang secara resmi membuka acara turut memberikan motivasi kepada para peserta. Ia menekankan bahwa kesuksesan lahir dari proses panjang yang dimulai sejak usia muda.</p>
<p>“Anak-anak hebat lahir dari ketekunan dan semangat belajar sejak dini. Kegiatan seperti ini adalah langkah nyata dalam membentuk generasi unggul masa hadapan,” ungkapnya.</p>
<p>MTQ ini mempertandingkan lima cabang lomba, yaitu tilawatil Qur’an, cerdas cermat, pidato, azan, dan qiraatul kutub, yang diikuti oleh peserta dari tingkat SD, SMP, hingga SMA. Pada malam pembukaan, perlombaan dimulai dengan cabang azan dan dilanjutkan dengan pidato.</p>
<p>Kegiatan ini akan berlangsung selama lima malam hingga 28 Maret. Adapun anggaran yang dibutuhkan untuk acara ini sekitar 36.650.000 rupiah yang bersumber dari donasi safari Ramadan, serta dukungan KPA /PA sagoe teungku keuramat, Keuchik gampong, dan para tokoh dermawan lainnya.</p>
<p>Acara ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Waled Saifullah, memohon keberkahan dan keberlanjutan kegiatan positif ini.<br />
Melalui kegiatan ini, ISKAT berharap dapat terus menanamkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan generasi muda, sehingga mereka tidak hanya menjadi penerus bangsa, tetapi juga penjaga peradaban Islam yang berakhlak dan berilmu.<br />
<!--/data/user/0/com.samsung.android.app.notes/files/clipdata/clipdata_bodytext_260325_055644_190.sdocx--></p>
<p>The post <a href="https://fokusinspirasi.com/musabaqah-tilawatil-quran-menggema-di-simpang-keuramat-generasi-muda-didorong-tak-ulangi-sejarah-andalusia/">Musabaqah Tilawatil Qur&#8217;an Menggema di Simpang Keuramat: Generasi Muda Didorong Tak Ulangi Sejarah Andalusia</a> appeared first on <a href="https://fokusinspirasi.com">Fokus Inspirasi</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://fokusinspirasi.com/musabaqah-tilawatil-quran-menggema-di-simpang-keuramat-generasi-muda-didorong-tak-ulangi-sejarah-andalusia/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">11492</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Mahasiswa KPM UIN Suna Lhokseumawe Salurkan Bantuan untuk Korban Banjir di Desa Kuala Kereto</title>
		<link>https://fokusinspirasi.com/mahasiswa-kpm-uin-suna-lhokseumawe-salurkan-bantuan-untuk-korban-banjir-di-desa-kuala-kereto/</link>
					<comments>https://fokusinspirasi.com/mahasiswa-kpm-uin-suna-lhokseumawe-salurkan-bantuan-untuk-korban-banjir-di-desa-kuala-kereto/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Fokus Inspirasi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 06 Mar 2026 08:54:44 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Daerah]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[aceh utara banjir bandang]]></category>
		<category><![CDATA[Kampus UIN lhokseumawe]]></category>
		<category><![CDATA[Mahasiswa Kpm]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://fokusinspirasi.com/?p=11387</guid>

					<description><![CDATA[<p>Banjir yang melanda wilayah tersebut beberapa waktu lalu menyebabkan sejumlah rumah warga <a class="read-more" href="https://fokusinspirasi.com/mahasiswa-kpm-uin-suna-lhokseumawe-salurkan-bantuan-untuk-korban-banjir-di-desa-kuala-kereto/" title="Mahasiswa KPM UIN Suna Lhokseumawe Salurkan Bantuan untuk Korban Banjir di Desa Kuala Kereto" itemprop="url"></a></p>
<p>The post <a href="https://fokusinspirasi.com/mahasiswa-kpm-uin-suna-lhokseumawe-salurkan-bantuan-untuk-korban-banjir-di-desa-kuala-kereto/">Mahasiswa KPM UIN Suna Lhokseumawe Salurkan Bantuan untuk Korban Banjir di Desa Kuala Kereto</a> appeared first on <a href="https://fokusinspirasi.com">Fokus Inspirasi</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure id="attachment_11388" aria-describedby="caption-attachment-11388" style="width: 1535px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" class="size-full wp-image-11388" src="https://fokusinspirasi.com/wp-content/uploads/2026/03/IMG_20260306_151058.jpg" alt="" width="1535" height="1704" /><figcaption id="caption-attachment-11388" class="wp-caption-text"><strong style="font-size: 16px;">Aceh Utara | Fokus inspirasi. Com</strong><span style="font-size: 16px;">– Suasana yang sebelumnya dipenuhi kekhawatiran perlahan berubah menjadi senyum di wajah warga Desa Kuala Kereto, Kecamatan Lapang, Kabupaten Aceh Utara. Sejumlah mahasiswa Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) dari UIN Sultanah Nahrasiyah Negeri lhokseumawe datang bersilaturahmi sekaligus menyalurkan bantuan bagi warga terdampak banjir, Selasa (17/2/2026).</span></figcaption></figure>
<p>Banjir yang melanda wilayah tersebut beberapa waktu lalu menyebabkan sejumlah rumah warga terendam,bahkan ada yang hancur di terjang banjir bandang ,serta sejumlah akses jalan putus.Kondisi ini membuat kebutuhan pokok menjadi sangat terbatas bagi sebagian masyarakat Yang ada kawasan tersebut. Kehadiran para mahasiswa dengan membawa bantuan sembako pun disambut hangat oleh warga.</p>
<p>Kegiatan penyaluran bantuan berlangsung selama satu hari penuh. Meski harus melewati jalan yang licin serta berlumpur sisa banjir bandang ,para mahasiswa tetap mendatangi rumah-rumah warga untuk menyerahkan bantuan.</p>
<p>Paket bantuan yang disalurkan berupa bahan kebutuhan pokok seperti gula, teh, dan roti. Selain itu, mahasiswa juga membawa kue, minuman, serta berbagai jajanan untuk anak-anak.</p>
<p>Ketua KPM, Sofia, mengatakan bantuan tersebut merupakan hasil penggalangan dana dari sesama mahasiswa dan rekan-rekan lainnya.</p>
<p>Dengan mata berkaca kaca para mahasiswa menyapa warga dengan bahasa daerah (aceh )“Kamoe dinge inoe brat banjir buk nyoeh. Kamoe na bacut sembako ke ureng droeneuh dari hasil meupesapat bacut sapoe dari rakan-rakan yang laen syit,” ujar Sofia saat menyerahkan bantuan kepada warga.</p>
<p>Warga yang menerima bantuan mengaku sangat terbantu dengan kepedulian para mahasiswa. Salah seorang ibu rumah tangga yang rumahnya sempat terendam banjir hingga setinggi lutut mengungkapkan rasa syukurnya.</p>
<p><img decoding="async" class="size-full wp-image-11389" src="https://fokusinspirasi.com/wp-content/uploads/2026/03/IMG_20260306_151118.jpg" alt="" width="1208" height="1732" /></p>
<p>Para mahasiswa berharap kegiatan ini dapat menjadi awal kebangkitan warga setelah bencana.</p>
<p>“Kami berharap bantuan ini bisa menjadi penyemangat bagi warga untuk bangkit kembali. Ke depan kami juga akan berusaha datang lagi untuk melihat kondisi mereka dan mencari tahu apa lagi yang bisa kami bantu,” ujar salah satu mahasiswa.</p>
<p>Melalui kegiatan tersebut, para mahasiswa berharap kehadiran mereka tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan dasar warga, tetapi juga menghadirkan semangat dan harapan baru bagi masyarakat Desa Kuala Kereto yang sedang berupaya pulih dari dampak banjir.&#8221;&#8221;ujarnya&#8221;&#8221;</p>
<p>The post <a href="https://fokusinspirasi.com/mahasiswa-kpm-uin-suna-lhokseumawe-salurkan-bantuan-untuk-korban-banjir-di-desa-kuala-kereto/">Mahasiswa KPM UIN Suna Lhokseumawe Salurkan Bantuan untuk Korban Banjir di Desa Kuala Kereto</a> appeared first on <a href="https://fokusinspirasi.com">Fokus Inspirasi</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://fokusinspirasi.com/mahasiswa-kpm-uin-suna-lhokseumawe-salurkan-bantuan-untuk-korban-banjir-di-desa-kuala-kereto/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">11387</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Keseruan dan Kehangatan Bersama Anak-anak Desa Kuala Kereutou dengan Mahasiswa KPM UIN SUNA</title>
		<link>https://fokusinspirasi.com/keseruan-dan-kehangatan-bersama-anak-anak-desa-kuala-kereutou-dengan-mahasiswa-kpm-uin-suna/</link>
					<comments>https://fokusinspirasi.com/keseruan-dan-kehangatan-bersama-anak-anak-desa-kuala-kereutou-dengan-mahasiswa-kpm-uin-suna/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Fokus Inspirasi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 06 Mar 2026 07:41:28 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Daerah]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[kampus uin suna]]></category>
		<category><![CDATA[lapang aceh utara]]></category>
		<category><![CDATA[Mahasiswa Kpm]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://fokusinspirasi.com/?p=11382</guid>

					<description><![CDATA[<p>&#160; Kegiatan yang berlangsung pada Senin, 16 Februari 2026 tersebut membawa suasana <a class="read-more" href="https://fokusinspirasi.com/keseruan-dan-kehangatan-bersama-anak-anak-desa-kuala-kereutou-dengan-mahasiswa-kpm-uin-suna/" title="Keseruan dan Kehangatan Bersama Anak-anak Desa Kuala Kereutou dengan Mahasiswa KPM UIN SUNA" itemprop="url"></a></p>
<p>The post <a href="https://fokusinspirasi.com/keseruan-dan-kehangatan-bersama-anak-anak-desa-kuala-kereutou-dengan-mahasiswa-kpm-uin-suna/">Keseruan dan Kehangatan Bersama Anak-anak Desa Kuala Kereutou dengan Mahasiswa KPM UIN SUNA</a> appeared first on <a href="https://fokusinspirasi.com">Fokus Inspirasi</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<figure id="attachment_11383" aria-describedby="caption-attachment-11383" style="width: 960px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" class="size-full wp-image-11383" src="https://fokusinspirasi.com/wp-content/uploads/2026/03/IMG_20260306_140337.jpg" alt="" width="960" height="624" /><figcaption id="caption-attachment-11383" class="wp-caption-text"><strong style="font-size: 16px;">Aceh Utara |Fokus inspirasi. Com</strong><span style="font-size: 16px;"> — Keceriaan terpancar dari wajah anak-anak Kelompok Bermain (KB) Trauma Healing di Desa Kuala Kereutou, Kecamatan Lapang, saat menyambut kedatangan mahasiswa Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) Mandiri 16 Tematik Kebencanaan dari Universitas Islam Negeri Sultanah Nahrasiyah (UIN SUNA) Lhokseumawe. Kehadiran para mahasiswa menghadirkan suasana penuh semangat, kehangatan, dan kebahagiaan di tengah aktivitas belajar mereka.</span></figcaption></figure>
<p>Kegiatan yang berlangsung pada Senin, 16 Februari 2026 tersebut membawa suasana baru dalam proses belajar dan bermain anak-anak. Selain menambah semangat, kehadiran mahasiswa juga menghadirkan keceriaan di tengah upaya pemulihan pascabencana yang dialami warga setempat.</p>
<p>Menurut Ketua kelompok Kuliah Pengabdian masyarakat (KPM) Safinatus sufia Mengatakan,Pendampingan yang dilakukan mahasiswa tidak hanya berfokus pada kegiatan belajar formal. Mereka juga berupaya membangun kedekatan emosional dengan anak-anak melalui berbagai aktivitas yang menyenangkan. Hal ini dinilai penting mengingat Kelompok Bermain tersebut berada di wilayah yang terdampak banjir, sehingga kegiatan yang dilakukan turut menjadi bagian dari upaya trauma healing.</p>
<figure id="attachment_11384" aria-describedby="caption-attachment-11384" style="width: 960px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" class="size-full wp-image-11384" src="https://fokusinspirasi.com/wp-content/uploads/2026/03/IMG_20260306_140352.jpg" alt="" width="960" height="915" /><figcaption id="caption-attachment-11384" class="wp-caption-text"><span style="font-size: 16px;">Kedekatan yang terjalin antara mahasiswa dan anak-anak pun tercipta dengan cepat. Bahkan pada hari itu, anak-anak terlihat lebih bersemangat daripada para mahasiswa. Dengan polos, mereka bertanya dalam bahasa Aceh, “Ditanyeng le aneuk mit, kak awak roneuh ino sibuleun kan?” yang berarti, “Kak, kalian sebulan di sini kan?”</span></figcaption></figure>
<p>Pertanyaan sederhana tersebut menjadi bukti bahwa kehadiran mahasiswa memberikan kesan mendalam bagi anak-anak di Desa Kuala Kereutou.</p>
<p>Berbagai aktivitas interaktif turut meramaikan kegiatan tersebut, mulai dari edukasi ringan, bernyanyi bersama, hingga permainan trauma healing. Permainan seperti ice breaking, tebak gerakan hewan, oper karet menggunakan sedotan, serta oper tepung menjadi bagian dari kegiatan yang dirancang untuk melatih keterampilan motorik, kemampuan sosial dan komunikasi, konsentrasi, serta kreativitas dan imajinasi anak-anak.</p>
<p>Suasana kebersamaan yang hangat dan menyenangkan mewarnai seluruh rangkaian kegiatan. Pada akhir acara, beberapa anak dengan bangga menunjukkan keberhasilan mereka meraih juara dalam permainan yang dilakukan. Para mahasiswa pun memberikan pujian serta pelukan hangat sebagai bentuk apresiasi atas semangat mereka.</p>
<p>Bagi mahasiswa KPM UIN SUNA, kegiatan pengabdian di Desa Kuala Kereutou tidak sekadar menjalankan kewajiban akademik. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi pengalaman kemanusiaan yang penuh makna. Kenangan yang tercipta diharapkan dapat menjadi penyemangat bagi anak-anak untuk terus belajar dan tumbuh dengan ceria, meskipun pernah menghadapi masa sulit akibat bencana.&#8221;&#8221;ujarnya&#8221;&#8221;</p>
<p>The post <a href="https://fokusinspirasi.com/keseruan-dan-kehangatan-bersama-anak-anak-desa-kuala-kereutou-dengan-mahasiswa-kpm-uin-suna/">Keseruan dan Kehangatan Bersama Anak-anak Desa Kuala Kereutou dengan Mahasiswa KPM UIN SUNA</a> appeared first on <a href="https://fokusinspirasi.com">Fokus Inspirasi</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://fokusinspirasi.com/keseruan-dan-kehangatan-bersama-anak-anak-desa-kuala-kereutou-dengan-mahasiswa-kpm-uin-suna/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">11382</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Sekda Aceh: Pendidikan Vokasi Jadi Ujung Tombak Pembangunan SDM Unggul</title>
		<link>https://fokusinspirasi.com/sekda-aceh-pendidikan-vokasi-jadi-ujung-tombak-pembangunan-sdm-unggul/</link>
					<comments>https://fokusinspirasi.com/sekda-aceh-pendidikan-vokasi-jadi-ujung-tombak-pembangunan-sdm-unggul/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Fokus Inspirasi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 09 Feb 2026 08:39:35 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://fokusinspirasi.com/?p=11356</guid>

					<description><![CDATA[<p>Banda Aceh &#124; Fokusinspirasi.com – Pemerintah Aceh menegaskan komitmennya dalam memprioritaskan peningkatan <a class="read-more" href="https://fokusinspirasi.com/sekda-aceh-pendidikan-vokasi-jadi-ujung-tombak-pembangunan-sdm-unggul/" title="Sekda Aceh: Pendidikan Vokasi Jadi Ujung Tombak Pembangunan SDM Unggul" itemprop="url"></a></p>
<p>The post <a href="https://fokusinspirasi.com/sekda-aceh-pendidikan-vokasi-jadi-ujung-tombak-pembangunan-sdm-unggul/">Sekda Aceh: Pendidikan Vokasi Jadi Ujung Tombak Pembangunan SDM Unggul</a> appeared first on <a href="https://fokusinspirasi.com">Fokus Inspirasi</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure id="attachment_11357" aria-describedby="caption-attachment-11357" style="width: 4160px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" class="size-full wp-image-11357" src="https://fokusinspirasi.com/wp-content/uploads/2026/03/IMG-20260303-WA0077.jpg" alt="" width="4160" height="2644" /><figcaption id="caption-attachment-11357" class="wp-caption-text">Sekda Aceh, M. Nasir, S.IP, MPA menghadiri serta menyampaikan sambutan Gubernur Aceh pada Acara Pemberian Kopetensi Tambahan &amp; Uji Kompetensi SDM Vokasional Klasifikasi Jenjang 7 di USK, Banda Aceh, Senin, 9 Januari 2026.</figcaption></figure>
<p><strong>Banda Aceh | Fokusinspirasi.com</strong> – Pemerintah Aceh menegaskan komitmennya dalam memprioritaskan peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) melalui penguatan pendidikan vokasi. Langkah ini diambil untuk mencetak tenaga kerja kompeten yang mampu bersaing di tingkat regional, nasional, hingga global.</p>
<p>​Hal tersebut disampaikan oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh, M. Nasir mewakili Gubernur Aceh saat membuka kegiatan Pemberian Kompetensi Tambahan dan Uji Kompetensi SDM Vokasional Klasifikasi Jenjang 7 di Universitas Syiah Kuala (USK), Banda Aceh, Senin (9/2/2026).</p>
<p>​Dalam sambutannya, M. Nasir menjelaskan bahwa kegiatan ini memiliki nilai strategis dalam mengklasifikasikan tenaga ahli. Fokusnya tidak hanya pada keterampilan teknis (hard skills), tetapi juga pada kemampuan analisis, pemecahan masalah, serta tanggung jawab profesional.</p>
<p>​&#8221;Pemerintah Aceh mengapresiasi setinggi-tingginya kepada USK yang terus berkomitmen mengembangkan pendidikan vokasi serta membangun jejaring kolaborasi dengan pemerintah, lembaga sertifikasi, hingga dunia usaha dan industri,&#8221; ujar M. Nasir.<br />
​<br />
​Ia menambahkan bahwa USK telah menunjukkan peran nyata dalam menyiapkan lulusan yang relevan dengan kebutuhan pembangunan daerah. Melalui sertifikasi kompetensi yang kredibel, lulusan vokasi diharapkan memiliki nilai tambah yang nyata di pasar kerja.<br />
​Menurutnya, dunia kerja saat ini berubah dengan sangat cepat. Oleh karena itu, para peserta didorong untuk terus belajar dan memperluas wawasan agar tetap adaptif terhadap perkembangan zaman.<br />
​<br />
​Selain aspek teknis, Sekda menekankan pentingnya menjaga integritas dan etika profesi. Sertifikasi yang diperoleh merupakan amanah dan bentuk kepercayaan negara serta masyarakat yang harus dijaga dengan kejujuran.</p>
<p>​&#8221;Bangunlah budaya kolaborasi. Keberhasilan tidak lahir dari kerja sendiri, melainkan hasil kerja tim dan komunikasi yang baik. Jadilah agen perubahan di lingkungan masing-masing,&#8221; pungkasnya.<!--/data/user/0/com.samsung.android.app.notes/files/clipdata/clipdata_bodytext_260303_153955_062.sdocx--></p>
<p>The post <a href="https://fokusinspirasi.com/sekda-aceh-pendidikan-vokasi-jadi-ujung-tombak-pembangunan-sdm-unggul/">Sekda Aceh: Pendidikan Vokasi Jadi Ujung Tombak Pembangunan SDM Unggul</a> appeared first on <a href="https://fokusinspirasi.com">Fokus Inspirasi</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://fokusinspirasi.com/sekda-aceh-pendidikan-vokasi-jadi-ujung-tombak-pembangunan-sdm-unggul/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">11356</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Peringati Wafat Imam Syafi’i ke-1243 dan Haul Tarbiyah Islamiyah Mazhab Syafi’i ke-12</title>
		<link>https://fokusinspirasi.com/peringati-wafat-imam-syafii-ke-1243-dan-haul-tarbiyah-islamiyah-mazhab-syafii-ke-12/</link>
					<comments>https://fokusinspirasi.com/peringati-wafat-imam-syafii-ke-1243-dan-haul-tarbiyah-islamiyah-mazhab-syafii-ke-12/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Fokus Inspirasi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 16 Jan 2026 03:07:17 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Daerah]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://fokusinspirasi.com/?p=11226</guid>

					<description><![CDATA[<p>Lhokseumawe  &#124; Fokusinspirasi.com– Warga Kota Lhokseumawe bersama jamaah Tarbiyah Islamiyah Mazhab Syafi’i <a class="read-more" href="https://fokusinspirasi.com/peringati-wafat-imam-syafii-ke-1243-dan-haul-tarbiyah-islamiyah-mazhab-syafii-ke-12/" title="Peringati Wafat Imam Syafi’i ke-1243 dan Haul Tarbiyah Islamiyah Mazhab Syafi’i ke-12" itemprop="url"></a></p>
<p>The post <a href="https://fokusinspirasi.com/peringati-wafat-imam-syafii-ke-1243-dan-haul-tarbiyah-islamiyah-mazhab-syafii-ke-12/">Peringati Wafat Imam Syafi’i ke-1243 dan Haul Tarbiyah Islamiyah Mazhab Syafi’i ke-12</a> appeared first on <a href="https://fokusinspirasi.com">Fokus Inspirasi</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img decoding="async" class="alignnone size-full wp-image-11227" src="https://fokusinspirasi.com/wp-content/uploads/2026/01/IMG-20260116-WA0024.jpg" alt="" width="3060" height="4080" /></p>
<p><b>Lhokseumawe</b>  <strong>| Fokusinspirasi.com–</strong> Warga Kota Lhokseumawe bersama jamaah Tarbiyah Islamiyah Mazhab Syafi’i Aceh memperingati hari wafat Imam Syafi’i Rahimahullah ke-1243 sekaligus Haul dan Hari Deklarasi Tarbiyah Islamiyah Mazhab Syafi’i Aceh ke-12, (14/01/26).</p>
<p>Kegiatan ini digelar di Pendopo Tarbiyah Islamiyah Mazhab Syafi’i, Desa Meunasah Mee, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe.</p>
<p>Acara tersebut turut dihadiri unsur Pemerintah Kota Lhokseumawe, Kapolres Lhokseumawe, Kapolsek Muara Dua, Camat Muara Dua, serta masyarakat dan jamaah Tarbiyah Islamiyah Mazhab Syafi’i dari berbagai daerah.</p>
<p>Peringatan ini rutin dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab. Bulan tersebut dipilih karena bertepatan dengan wafatnya Imam Syafi’i yang terjadi pada akhir bulan Rajab, sekaligus momentum deklarasi Tarbiyah Islamiyah Mazhab Syafi’i Aceh yang diproklamasikan di Gampong Alue Lim, Kecamatan Blang Mangat, oleh Syaikhuna Abati Banda Dua Tgk. H. Usman Ibni Abdillah.</p>
<p>Dalam sambutannya, panitia menyampaikan bahwa Tarbiyah Islamiyah Mazhab Syafi’i merupakan bagian dari warisan keilmuan dan spiritual peninggalan Sultan Malikussaleh yang bertujuan untuk memperbaiki moral dan akhlak umat.<br />
Gerakan ini diharapkan mampu mengangkat masyarakat dari kejahilan menuju kehidupan yang berlandaskan ilmu dan nilai-nilai agama.</p>
<p>Disebutkan pula bahwa Tarbiyah Islamiyah Mazhab Syafi’i memiliki peran penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pada tahun 1947, Abuya Hasan Krueng Kalee menyerahkan acuan Tarbiyah Islamiyah sebagai aset rohani Republik Indonesia.</p>
<p>Oleh karena itu, jamaah berharap pemerintah dapat menjalankan dan menghidupkan kembali acuan tersebut demi terciptanya ketenteraman dan keharmonisan di tengah masyarakat.</p>
<p>Selain peringatan haul, kegiatan ini juga dirangkai dengan penyambutan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW melalui dakwah Islamiyah yang disampaikan oleh Abi Nasruddin Puntet.</p>
<p>Jamaah diajak untuk terus menuntut ilmu agama agar dapat beribadah kepada Allah SWT sesuai tuntunan yang benar.</p>
<p>Peringatan ini diharapkan menjadi momentum refleksi dan penguatan nilai-nilai keislaman di tengah masyarakat, khususnya di Kota Lhokseumawe dan Aceh secara umum.<br />
<!--/data/user/0/com.samsung.android.app.notes/files/clipdata/clipdata_bodytext_260116_100617_814.sdocx--></p>
<p>The post <a href="https://fokusinspirasi.com/peringati-wafat-imam-syafii-ke-1243-dan-haul-tarbiyah-islamiyah-mazhab-syafii-ke-12/">Peringati Wafat Imam Syafi’i ke-1243 dan Haul Tarbiyah Islamiyah Mazhab Syafi’i ke-12</a> appeared first on <a href="https://fokusinspirasi.com">Fokus Inspirasi</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://fokusinspirasi.com/peringati-wafat-imam-syafii-ke-1243-dan-haul-tarbiyah-islamiyah-mazhab-syafii-ke-12/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">11226</post-id>	</item>
		<item>
		<title>BANDIT-BANDIT KORPORAT EKOSIDA GLOBAL</title>
		<link>https://fokusinspirasi.com/bandit-bandit-korporat-ekosida-global/</link>
					<comments>https://fokusinspirasi.com/bandit-bandit-korporat-ekosida-global/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Fokus Inspirasi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 04 Jan 2026 09:01:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Internasional]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[aceh]]></category>
		<category><![CDATA[bencana ekologis]]></category>
		<category><![CDATA[Opini kerusakan lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[pembiaran kerusakan lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[pulau sumatera]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://fokusinspirasi.com/?p=11212</guid>

					<description><![CDATA[<p>(Dibalek Citra Komunikasi Kapitalisme-Greenwashing)   Kamaruddin Hasan* &#8220;Selama bahasa demi pembangunan dan <a class="read-more" href="https://fokusinspirasi.com/bandit-bandit-korporat-ekosida-global/" title="BANDIT-BANDIT KORPORAT EKOSIDA GLOBAL" itemprop="url"></a></p>
<p>The post <a href="https://fokusinspirasi.com/bandit-bandit-korporat-ekosida-global/">BANDIT-BANDIT KORPORAT EKOSIDA GLOBAL</a> appeared first on <a href="https://fokusinspirasi.com">Fokus Inspirasi</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img decoding="async" class="alignnone size-full wp-image-11213" src="https://fokusinspirasi.com/wp-content/uploads/2026/01/IMG-20251221-WA0064.jpg" alt="" width="1194" height="1600" /></p>
<p><b><i>(Dibalek Citra Komunikasi Kapitalisme-Greenwashing)</i></b><br />
<b> </b><br />
<b>Kamaruddin Hasan*</b></p>
<p><strong><em>&#8220;Selama bahasa demi pembangunan dan keuntungan terus mengalahkan suara bumi dan kemanusiaan, maka ekosida akan terus diproduksi dan dinormalisasi oleh bandit-bandit korporat ekosida melalui parktik-praktik komunikasi kapitalisme</em> <i>greenwashing&#8221;</i>.</strong><br />
<b> </b><br />
<strong>ACEH | Fokusinspirasi.com &#8211;</strong> Secara singkat kita pahami dulu apa itu; <i>ekosida, korporat, Komunikasi Kapitalisme-</i> <i>Greenwashing</i>.</p>
<p>Pertama; <i>Ekosida</i> merupakan perusakan skala besar dan sistematis terhadap ekosistem, ekologi vital, lingkungan hidup yang dilakukan secara ceroboh dan sengaja. Mengakibatkan kerusakan parah dan luas yang mengancam keberlanjutan kehidupan, hilangnya keanekaragaman hayati, perubahan iklim, berdampak rusaknya semua sendi kehidupan manusia.</p>
<p>Sering kali dilakukan oleh korporasi melalui eksploitasi sumber daya alam, pencemaran, alih fungsi hutan dan lainnya. Walaupun sampai kini diupayakan untuk diakui sebagai kejahatan internasional.</p>
<p>Kedua; <i>Korporat </i>atau Corporate adalah badan usaha atau perusahaan besar yang didirikan oleh sekelompok orang, beroperasi secara terstruktur dengan dasar hukum yang jelas, serta bertujuan utama mencari keuntungan sebesar-besarnya dengan modal dari pemilik, penjualan saham dan memiliki sistem kerja yang formal dan profesional.</p>
<p>Ketiga; <i>Komunikasi Kapitalisme-Greenwashing </i>merupakan kejahatan komunikasi yang sengaja dipoles. Bandit-bandit ekosida global tidak bekerja dengan kekerasan semata, namun bekerja dengan strategi komunikasi yang canggih, salah satunya dengan strategi <i>greenwashing.</i></p>
<p>Praktik komunikasi dengan menampilkan citra ramah lingkungan untuk menutupi praktik perusakan. Misal dengan laporan keberlanjutan, program CSR, penanaman simbolik ribuan pohon, kampanye <i>net zero</i> sering kali lebih berfungsi sebagai manajemen citra ketimbang perubahan substantif.</p>
<p>Dalam kacamata komunikasi, <i>greenwashing</i> merupakan kebohongan yang dilembagakan bukan melalui dusta terang-terangan, tetapi melalui seleksi informasi dan manipulasi makna.</p>
<p>Masalahnya, <i>greenwashing</i> sering diterima dan direproduksi oleh media. Media tidak selalu berbohong, tetapi sering kali terjebak dalam logika akses, iklan dan kepentingan modal. Akibatnya, suara rakyat, korban, aktivis lingkungan kalah nyaring dibandingkan rilis pers korporasi.</p>
<p>Ekosida bukan hanya soal rusaknya alam, tetapi juga rusaknya komunikasi kemanusiaan. Rakyat terdampak sering tidak memiliki ruang bicara yang setara. Ketika melawan, suaranya dicap emosional, tidak ilmiah atau menghambat pembangunan.</p>
<p>Dalam situasi inilah hadir kekerasan simbolik, ketika bahasa, regulasi dan wacana digunakan untuk membungkam.</p>
<p>Data AMDAL sulit diakses, proses konsultasi publik bersifat formalitas dan kearifan lokal, pengetahuan lokal dianggap tidak relevan dibandingkan <i>kajian teknokratis</i>.</p>
<p>Bahkan rakyat-korban mengalami penghapusan ganda; sebagai korban ekologis dan sebagai subjek komunikasi. Korban kehilangan tanah, sekaligus kehilangan suara.</p>
<p>Ekosida global tidak selalu datang dengan suara ledakan, sering hadir dalam bentuk yang lebih sunyi dengan laporan keberlanjutan, iklan hijau dan <i>etalase</i> supermarket yang rapi.</p>
<p>Di balik bahasa ramah lingkungan itu, beroperasi bandit-bandit ekosida korporat global perusahaan raksasa yang merusak ekosistem, sambil memoles citra melalui komunikasi kapitalisme dan greenwashing.</p>
<p>Ekosida sebagai proyek terstruktur kapitalisme dunia, ekosida hari ini bukan lagi praktik tersembunyi di pinggiran dunia. Hadir sebagai proyek global yang terorganisir, dijalankan oleh segelintir korporasi raksasa lintas negara, didukung oleh lembaga keuangan internasional dan dinormalisasi melalui bahasa pembangunan.</p>
<p>Berbagai laporan ilmiah dan investigasi global menunjukkan bahwa kerusakan ekosistem berskala planet tidak terjadi secara acak, melainkan terkonsentrasi pada aktor-aktor ekonomi tertentu.</p>
<p>Berbagai riset internasional, seperti yang dilakukan oleh studi emisi historis perusahaan energi fosil, dikutip luas dalam laporan ilmiah dan media internasional (<i>Nature Climate Change</i>, <i>Carbon Majors Report</i>). Menunjukkan bahwa krisis iklim dan kehancuran ekosistem dunia tidak disebabkan oleh umat manusia secara umum, melainkan oleh segelintir korporasi besar.</p>
<p>Laporan ilmiah yang banyak dirujuk menyebutkan bahwa kurang lebih 20 perusahaan energi fosil bertanggung jawab atas porsi signifikan emisi karbon historis dunia, emisi yang memicu banjir, longsor, kekeringan dan gelombang panas ekstrem di berbagai belahan bumi.</p>
<p>Sebut saja, perusahaan seperti Saudi Aramco, ExxonMobil, Chevron, BP, Shell, dan Gazprom tercatat sebagai kontributor terbesar emisi karbon historis sejak revolusi industri.</p>
<p>Studi lain mengaitkan langsung emisi perusahaan-perusahaan minyak dan gas besar dengan peningkatan gelombang panas ekstrem, banjir, kekeringan dan kematian manusia. Bahwa, kerusakan ekologi tidak lagi bersifat abstrak, tetapi berwujud penderitaan manusia yang konkret.</p>
<p>Ekosida juga bekerja melalui rantai pasok global, investigasi Greenpeace dan lembaga lingkungan internasional menunjukkan bahwa industri kelapa sawit, kedelai, daging dan pulp &amp; paper berkontribusi besar terhadap deforestasi tropis, terutama di Indonesia, Brasil, dan Afrika Tengah.</p>
<p>Perusahaan perdagangan komoditas raksasa seperti Wilmar, Cargill, dan JBS, serta jaringan pemasok yang terhubung dengan merek global produk konsumen, berulang kali dikaitkan dengan perusakan hutan, konflik lahan dan degradasi ekosistem. Ironisnya, produk-produk hasil ekosida ini hadir dalam kehidupan sehari-hari masyarakat global, disinilah komunikasi kapitalisme-<i>greenwashing</i> bekerja, kejahatan ekologis disembunyikan di balik kemasan konsumsi.</p>
<p>Studi lain dari Global Environmental Change menemukan bahwa dari lebih dari 5.500 perusahaan yang dianalisis di Environmental Justice Atlas, 104 di antaranya terlibat dalam sekitar 20% dari total konflik lingkungan dan sosial global.</p>
<p>Perusahaan-perusahaan ini disebut <i>superconflictive</i> karena terhubung dengan konflik berulang akibat operasi <i>extractive industries </i>dan <i>proyek infrastruktur</i> yang sering menabrak hak rakyat dan kekayaan ekosistem.</p>
<p>Mayoritas perusahaan merupakan multinasional dari negara maju <i>Global North</i>, sementara dampak kerusakan paling terasa di <i>Global South</i> negara berkembang di Asia, Afrika dan Amerika Latin mencerminkan asimetri kekuasaan ekonomi dan lingkungan.</p>
<p>Artinya kerusakan iklim dan ekosistem dunia sangat terkonsentrasi pada segelintir aktor korporasi besar, terutama di sektor energi fosil, tambang, agribisnis dan kehutanan.</p>
<p>Kurang dari dua lusin perusahaan energi fosil tercatat sebagai mendorong pemanasan global, cuaca ekstrem dan bencana ekologis. Namun, di ruang publik, perusahaan-perusahaan itu jarang disebut sebagai pelaku kejahatan. Mereka hadir sebagai sponsor konferensi iklim, mitra transisi energi dan pelopor <i>pembangunan berkelanjutan</i>.</p>
<p>Ekosida pun tidak pernah disebut sebagai kejahatan, melainkan sebagai <i>dampak Pembangunan</i>, hadir sebagai sponsor konferensi iklim, mitra transisi energi dan pengusung masa depan hijau.</p>
<p>Bahasa yang digunakan selalu optimistis. Kerusakan disebut <i>tantangan</i>. Eksploitasi disebut <i>optimalisasi</i>. Ekosida direduksi menjadi <i>dampak yang dapat dikelola. </i>Tentu bahasa ini bukan kebetulan, namun sebagai strategi.</p>
<p>Di sinilah kejahatan dipoles lewat <i>komunikasi kapitalisme–greenwashing</i>, laporan Greenpeace International, Investigations on Global Commodity Supply Chains, menggambarkan ekosida global tidak hanya terjadi di lokasi tambang dan ladang minyak.</p>
<p>Namun bersembunyi di balik rak supermarket dunia. Produk-produk yang tampak biasa; sabun, cokelat, makanan olahan, kosmetik, kertas, hingga bahan bakar, dan lainnya sering terhubung dengan rantai pasok yang menghancurkan hutan tropis dan ruang hidup rakyat, pengetahuan lokal, adat budaya dan kearifan lokal.</p>
<p>Industri kelapa sawit global sebagai contoh paling nyata, berbagai investigasi organisasi lingkungan, seperti laporan Greenpeace Indonesia &amp; Friends of the Earth, deforestasi sawit dan rantai pasok global, menunjukkan bahwa ekspansi sawit telah mendorong deforestasi besar-besaran di Indonesia.</p>
<p>Nama-nama perusahaan dagang komoditas dan merek global berulang kali muncul dalam laporan tersebut, walau mereka mengklaim komitmen <i>nol deforestasi</i>.</p>
<p>Hutan ditebang di Aceh dan Sumatera, tetapi produknya dipasarkan di Eropa dan Amerika dengan label <i>berkelanjutan</i>.</p>
<p>Investigasi Greenpeace pernah memaparkan bahwa rantai pasokan minyak sawit global berkontribusi besar terhadap deforestasi besar-besaran di Indonesia.</p>
<p>Perusahaan seperti Wilmar International disebut masih terlibat dalam perusakan hutan dan konflik lahan, sementara merek-merek global seperti Unilever, Nestlé, Colgate-Palmolive, PepsiCo, dan Mondelez terhubung ke pemasok yang merusak hutan tropis demi minyak sawit meskipun secara publik mengklaim praktik yang <i>bersih.</i></p>
<p><i> </i>Memperlihatkan bagaimana produk sehari-hari dipasok melalui jaringan yang merepresentasikan ekosida tersembunyi di balik rak supermarket<br />
Di Aceh dan Sumatra, pola ini terasa nyata, alih fungsi hutan untuk sawit dan tambang mengubah daerah tangkapan air.</p>
<p>Sungai menyempit, tanah kehilangan daya serap. Ketika hujan lebat datang, banjir dan longsor menjadi keniscayaan.</p>
<p>Namun dalam komunikasi resmi, peristiwa itu kembali disebut sebagai bencana alam, bukan sebagai akibat kebijakan tata ruang dan ekonomi ekstraktif. Bahasa ini tidak netral, namun bekerja sebagai alat pembebasan tanggung jawab.</p>
<p>Dengan menyebut banjir sebagai <i>takdir alam</i>, keterlibatan korporasi dan negara menguap dari percakapan publik.</p>
<p>Terkadang yang tersisa hanya empati sesaat, bantuan darurat, lalu lupa.</p>
<p>Termasuk peran lembaga keuangan global memperparah keadaan, laporan koalisi organisasi masyarakat sipil internasional; Koalisi NGO Internasional (Rainforest Action Network, BankTrack, dan lain-lain), bahwa pendanaan bank terhadap sektor perusak hutan pasca-perjanjian Paris mencatat bahwa triliunan dolar dana bank dan investor terus mengalir ke sektor-sektor berisiko tinggi terhadap hutan dan ekosistem, termasuk sawit, tambang dan energi fosil. Ironisnya tentu, lembaga yang sama, aktif mempromosikan kebijakan ESG (<i>Environmental, Social, Governance</i>) dan investasi hijau.</p>
<p>Diantaranya tercakup grup besar seperti JBS (Brasil), Cargill (AS), serta grup bisnis yang terlibat aktivitas di Indonesia; Royal Golden Eagle dan Sinarmas.</p>
<p>Menunjukkan bahwa dana investasi institusional sering mendukung aktivitas yang mempercepat deforestasi, degradasi lahan dan konflik agrarian, meskipun secara resmi juga mempublikasikan kebijakan <i>ramah lingkungan</i>.</p>
<p>Tentu, tidak ada ekosida tanpa modal, perspektif komunikasi politik ekonomi, bank dan investor berperan sebagai aktor ekosida yang tidak terlihat, karena jarang muncul di garis depan konflik lingkungan, tetapi menentukan arah pembangunan melalui keputusan pendanaan.</p>
<p>Bank dan lembaga keuangan global bekerja sebagai pendana senyap ekosida.</p>
<p>Beginilah wajah ekosida yang dilegalkan, ekosida tidak bekerja di ruang gelap, tetapi di ruang terang; laporan tahunan, iklan televisi, media baru, media sosial dan rak-rak ritel global.</p>
<p>Rakyat sebagai Konsumen hanya melihat produk akhir, seperti hilangnya hutan, sungai tercemar dan lainnya, sedangkan rakyat, komunitas adat kehilangan ruang hidup.</p>
<p>Dalam perspektif komunikasi kritis, hal ini merupakan kekerasan simbolik dan wacana. Korporasi tidak membantah kerusakan ekologis; mereka cukup memastikan bahwa kerusakan itu tidak pernah dikaitkan langsung dengannya.</p>
<p>Media, sadar atau tidak, sering ikut mereproduksi narasi ini melalui rilis pers dan jargon pembangunan.</p>
<p>Tentu, musibah Aceh dan Sumatra bukan sekadar peristiwa alam, merupakan pesan yang terus diabaikan. Pesan tentang ekosistem yang runtuh, tata ruang yang rusak dan sistem ekonomi yang menormalisasi kehancuran.</p>
<p>Pertambangan misalnya, sering dikomunikasikan sebagai <i>motor pembangunan daerah</i>, tetapi kenyataannya meninggalkan lanskap rusak, pencemaran sungai dan konflik berkepanjangan dengan masyarakat lokal.</p>
<p>Sekali lagi, bahasa pembangunan berfungsi sebagai alat normalisasi kehancuran. Namun, seperti biasa, pesan itu segera diredam oleh bahasa resmi; <i>curah hujan tinggi, cuaca ekstrem, anomali iklim</i>.</p>
<p>Semua terdengar netral, tidak ada pelaku, tidak ada penanggung jawab dan disinilah komunikasi bekerja sebagai alat kekuasaan.</p>
<p>Aceh–Sumatra bukan pengecualian, karena bagian dari pola ekosida global, hilangnya Gampong-Gampong dan nyawa di Aceh-Sumatera hari ini sebagai dampak dari keputusan ekonomi yang dibuat jauh dari sana; di ruang rapat korporasi dan pasar global.</p>
<p>Namun selama bahasa pembangunan dan keuntungan terus mendominasi, ekosida akan tetap dipahami sebagai <i>nasib</i> bukan <i>kejahatan</i>.</p>
<p>Korporasi ekosida global memahami satu hal bahwa <i>persepsi</i> rakyat lebih menentukan daripada fakta ekologis.</p>
<p>Sehingga, alih-alih menghentikan praktik <i>destruktif,</i> malah membangun narasi hijau.</p>
<p>Laporan keberlanjutan dicetak tebal. Iklan bertema alam diperbanyak. Istilah <i>net zero</i>, ESG dan <i>responsible sourcing</i> diulang tanpa henti. Inilah strategi <i>greenwashing</i> praktik komunikasi yang memoles citra, bukan mengubah perilaku.</p>
<p>Kerusakan tetap berjalan, tetapi bahasa yang digunakan berubah. Deforestasi disebut <i>alih fungsi lahan</i>. Pencemaran air disebut <i>insiden operasional</i>. Penggusuran masyarakat adat disebut <i>relokasi</i>.</p>
<p>Kejahatan tidak dihapus, hanya disamarkan oleh istilah teknokratis. Pada saat itulah bandit-bandit ekosida yang berantai; lokal, regional, nasional dan global paling berbahaya; merusak sambil terus berbicara atas nama masa depan.</p>
<p>Ekosida merupakan kejahatan bandit-bandit yang dikomunikasikan, dari berbagai data global tersebut, jelas bahwa bandit-bandit ekosida korporat global tidak hanya merusak alam, tetapi juga mengendalikan cara kerusakan itu dikomunikasi untuk dipahami.</p>
<p>Tidak sekadar mengeksploitasi sumber daya, tetapi juga mengelola narasi, membingkai kehancuran sebagai pembangunan dan menggeser kesalahan ke alam, cuaca bahkan ke rakyat itu sendiri.</p>
<p>Aceh–Sumatra, Amazon, Afrika, dan wilayah lain di <i>Global South</i> hanyalah panggung penderitaan dari sistem yang sama, diproduksi oleh bandit-bandit korporat ekosida.</p>
<p>Selama bahasa demi pembangunan dan keuntungan terus mengalahkan suara bumi dan kemanusiaan, maka ekosida akan terus diproduksi dan dinormalisasi oleh bandit-bandit korporat ekosida melalui parktik-praktik komunikasi kapitalisme <i>greenwashing</i>.</p>
<p>*Akademisi Ilmu Komunikasi Fisip Universitas Malikussaleh<br />
<!--/data/user/0/com.samsung.android.app.notes/files/clipdata/clipdata_bodytext_260104_154318_850.sdocx--></p>
<p>The post <a href="https://fokusinspirasi.com/bandit-bandit-korporat-ekosida-global/">BANDIT-BANDIT KORPORAT EKOSIDA GLOBAL</a> appeared first on <a href="https://fokusinspirasi.com">Fokus Inspirasi</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://fokusinspirasi.com/bandit-bandit-korporat-ekosida-global/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">11212</post-id>	</item>
		<item>
		<title>ACEH DI UJUNG KESABARAN ALAM</title>
		<link>https://fokusinspirasi.com/aceh-di-ujung-kesabaran-alam/</link>
					<comments>https://fokusinspirasi.com/aceh-di-ujung-kesabaran-alam/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Fokus Inspirasi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 20 Dec 2025 15:51:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[aceh]]></category>
		<category><![CDATA[Banjir dan longsor]]></category>
		<category><![CDATA[Bencana banjir dan longsor aceh sumatera]]></category>
		<category><![CDATA[keruskan lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[sumatera]]></category>
		<category><![CDATA[sumatera barat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://fokusinspirasi.com/?p=11175</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kamaruddin Hasan* &#8220;Aceh hari ini berada di persimpangan, apakah memilih mendengar suara <a class="read-more" href="https://fokusinspirasi.com/aceh-di-ujung-kesabaran-alam/" title="ACEH DI UJUNG KESABARAN ALAM" itemprop="url"></a></p>
<p>The post <a href="https://fokusinspirasi.com/aceh-di-ujung-kesabaran-alam/">ACEH DI UJUNG KESABARAN ALAM</a> appeared first on <a href="https://fokusinspirasi.com">Fokus Inspirasi</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img decoding="async" class="alignnone size-full wp-image-11176" src="https://fokusinspirasi.com/wp-content/uploads/2025/12/IMG-20251220-WA0469.jpg" alt="" width="1600" height="927" /></p>
<p><b>Kamaruddin Hasan*</b></p>
<p><em>&#8220;Aceh hari ini berada di persimpangan, apakah memilih mendengar suara alam dan menata ulang cara hidup, atau terus menunda hingga kesabaran alam benar-benar habis? Jawaban atas pertanyaan itu akan menentukan bukan hanya masa depan Aceh, tetapi juga martabat manusia yang mengaku beriman, berakal dan beradab&#8221;.</em></p>
<p><strong>Lhokseumawe | Fokusinspirasi.com</strong> &#8211; Aceh hari ini seperti ruang sunyi yang sedang ditegur alamnya sendiri. Banjir datang hampir tiap tahun, longsor menyapu lereng-lereng gunung, sungai meluap tanpa ampun, hutan menipis dan laut perlahan kehilangan keseimbangannya.</p>
<p>Semua terjadi berulang, seolah alam sedang berkata dengan suara yang semakin keras; “<i>Aku sudah lelah dan muak</i>.” Kita saja tidak mendengar, tidak mau mendengar, menyepelekan atau bahkan mengabaikannya.</p>
<p>Aceh yang selama berabad-abad dikenal sebagai serambi mekkah, tanah iman, tawakkal, tanah perlawanan. Negeri para ulama, negeri para syuhada, negeri darussalam, negeri syariat, negeri Iskandar Muda, sebagai <i>bansa teuleubeh ateuh roung donya</i>.</p>
<p>Negeri yang paling sering berbicara tentang iman, syariat dan moralitas.<br />
Namun dalam praktik pengelolaan lingkungan alam, sering kali nilai spiritual terpisah dari kebijakan pembangunan.</p>
<p>Sangat baik rajin membangun masjid, tetapi abai menjaga alam hutan, itu tidak baik. Fasih berbicara tentang halal-haram, tapi lupa bahwa merusak lingkungan alam sama dengan dosa sosial.</p>
<p>Aceh sama sekali tidak kekurangan nilai dan simbol negeri syariat, tetapi kehilangan etika ekologis tauhid, yang seharusnya manusia sebagai khalifah dimuka bumi <i>raḥmatan lil-‘ālamīn </i>rahmat bagi alam semesta, bukan kerakusan atas bumi.</p>
<p>Kini Aceh berdiri di ujung kesabaran alam. Bukan karena takdir semata, melainkan karena akumulasi kesalahan manusia yang terlalu lama diabaikan, dibenarkan, bahkan dinormalisasi atas nama pembangunan dan mengejar pertumbuhan ekonomi berbasis ekstraksi. Padahal pendekatan ekonomi ekstraksi; paling primitive, kuno, bodoh, tolol alias <i>ngeet.</i></p>
<p>Akhirnya Aceh kembali tenggelam; sungai meluap, tanah longsor, rumah-rumah rakyat hilang entah kemana. Gampong banyak hilang ditelan banjir, lumpur dan kayu-kayu gelondongan yang berserakan di mana-mana, bahkan ratusan meninggal dunia. Sawah, tambak, ternak, rumah, harta benda, tempat usaha, keude, pasar tengelam diterjang banjir, lumpur dan kayu-kayu gelondongan.</p>
<p>Setiap musim hujan kini selain pertanda berkah, juga menghadirkan kecemasan yang berulang dan mendalam. Bahkan bagi banyak warga di gampong-gampong, hujan tidak lagi dinanti, namun mulai ditakuti.</p>
<p>Alam Aceh seolah sedang berbicara, mula-mula pelan, kini semakin keras. Lihat saja, dalam satu dekade terakhir, Aceh mengalami peningkatan frekuensi bencana hidrometeorologi, terutama banjir dan longsor.</p>
<p>Fenomena ini tidak lagi dapat dipahami sebagai kejadian alam semata, melainkan sebagai akumulasi kebijakan pembangunan yang mengabaikan daya dukung lingkungan.</p>
<p>Bencana hadir terlalu sering, terlalu dekat, dan terlalu merata. Seolah alam sedang berada di ujung kesabarannya.<br />
Secara ilmiah, bencana ekologis bukanlah peristiwa tunggal. Bencana ini mata rantai sebab-akibat.</p>
<p>Data kebencanaan menunjukkan bahwa peningkatan frekuensi banjir dan longsor di Aceh berkorelasi kuat dengan deforestasi, alih fungsi lahan, tambang terbuka, perkebunan skala besar dan tata ruang yang abai daya dukung lingkungan.</p>
<p>Hutan Aceh yang seharusnya menjadi benteng ekologis Sumatera, perlahan terkoyak, daerah tangkapan air rusak, Sungai-sungai kehilangan sempadan alaminya. Gunung dilukai oleh galian-galian tambang dan deforestasi. Ketika hujan turun, air tidak lagi diserap, tetapi dilepaskan dengan kemarahan yang meluluhlantakan semua yang menghadangnya.</p>
<p>Secara sains lingkungan, realitas ini bukan fenomena misterius, tapi hukum alam membuktikannya.</p>
<p>Aceh bukan negeri yang asing dengan musibah, sejarah panjangnya dipenuhi berbagai ujian cobaan, sebut saja; perang kolonial, konflik bersenjata, gempa bumi, tsunami, banjir dan longsor. Namun yang terjadi hari ini terasa berbeda. Jika dulu bencana hadir sebagai peristiwa besar yang jarang, kini mulai menjelma rutinitas tahunan.</p>
<p>Dari wilayah pesisir hingga pedalaman, dari daerah aliran sungai hingga lereng pegunungan, ancaman datang berulang dan sering kali dengan dampak yang sama; kehilangan nyawa, kerugian, trauma dan ketidakpastian.</p>
<p>Musibah banjir dan longsor bukan sekadar kehendak langit, Alam tidak pernah murka. hanya bereaksi saja. Hutan yang gundul, dialih fungsikan, sungai yang disempitkan, gunung yang dilukai dan rawa yang ditimbun contoh luka-luka ekologis yang pelan-pelan berubah menjadi bencana, air tidak lagi diserap tanah dan vegetasi, namun dilepaskan sekaligus ke permukiman.</p>
<p>Aceh sesungguhnya memiliki modal ekologis yang besar. Sebagai provinsi dengan salah satu tutupan hutan terluas di Sumatra, Aceh seharusnya memiliki ketahanan lingkungan yang lebih baik.</p>
<p>Namun alih fungsi lahan, pembukaan hutan, aktivitas ekstraktif, serta tata ruang yang lemah telah menggerus fungsi ekologis tersebut.</p>
<p>Ketika hujan ekstrem datang yang kini makin sering akibat perubahan iklim bencana menjadi keniscayaan, bukan kejutan.</p>
<p>Maka dalam hal ini, sangat diutamakan kejujuran kolektif, mendengar hati nurani, kembali ke fitrah sebagai khalifah, adanya keseimbangan antara kecerdasan intelektual/pengetahuan, spiritualitas dan emosional.</p>
<p>Sehingga kalau ada yang menyebut bencana sebagai <i>takdir</i> tanpa evaluasi kebijakan manusia adalah bentuk pengingkaran terhadap ilmu pengetahuan sekaligus moralitas, etika public dan etika ekologis tauhid.</p>
<p>Allah SWT, telah mengingatkan: <i>“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia.”.</i> Ayat ini secara eksplisit mengaitkan kerusakan alam dengan perbuatan manusia.</p>
<p>Dalam perspektif modern, pesan ini sejalan dengan pendekatan ekologi yang menempatkan krisis lingkungan sebagai hasil interaksi sosial, ekonomi, dan politik. Ayat tersebut bukan sekadar nasihat dan pedoman spiritual, melainkan cermin etika ekologis.</p>
<p>Namun dalam praktik, sering kali menempatkan bencana semata sebagai ujian Allah. Perspektif ini sah secara teologis, tetapi menjadi berbahaya jika menutup evaluasi kebijakan manusia.</p>
<p>Dalam etika Islam sendiri, manusia ditempatkan sebagai <i>khalifah </i>penjaga bumi, bukan penguasa yang bebas mengeksploitasi. Menjadi khalifah berarti bertanggung jawab, menahan diri dan menjaga keseimbangan. Ketika izin mudah dikeluarkan, ketika tata ruang diabaikan, ketika kepentingan jangka pendek mengalahkan keselamatan jangka panjang, maka yang terjadi bukan sekadar kesalahan teknis, melainkan kegagalan moral.</p>
<p>Alam Aceh tidak butuh pidato panjang, yang dibutuhkan keputusan berani, keputusan yang berpihak pada keselamatan rakyat dan keberlanjutan hidup.Tentu, kritik ini bukan penolakan terhadap pembangunan, Aceh membutuhkan pembangunan, tentu pembangunan berpusat pada manusia (<i>people centerd development)</i>.</p>
<p>Pembangunan tanpa berpusat manusia, tanpa etika lingkungan hanya akan memindahkan risiko ke rakyat dan generasi mendatang.</p>
<p>Aceh sangat membutuhkan pergeseran paradigma, dari pembangunan eksploitatif, ekonomi ekstraksi. Menuju pembangunan berkelanjutan berbasis moralitas dan etika.</p>
<p>Integrasi sains lingkungan, kebijakan publik, kearifan lokal dan nilai keagamaan bukan sekadar wacana moral, melainkan keharusan strategis untuk mengurangi risiko bencana dan konflik sosial di masa depan.</p>
<p>Aceh sesungguhnya ada solusi di depan mata, sebagai jalan pulang dengan menyatukan Iman, Ilmu dan Alam, yaitu warisan kearifan lokal Aceh yang kuat, hukum adat, sistem pengelolaan berbasis komunitas yang selama ratusan tahun menjaga keseimbangan hidup. Nilai-nilai ini perlu dihidupkan dan diperkuat kembali, bukan sebagai romantisme masa lalu, tetapi sebagai solusi kontekstual masa depan.</p>
<p>Di saat yang sama, kebijakan harus berbasis data dan ilmu pengetahuan. Perencanaan tata ruang, pengelolaan daerah aliran sungai dan perlindungan kawasan hutan harus menjadi prioritas. Tanpa itu, doa dan teknologi akan sama-sama kehilangan daya guna. Di sinilah nilai-nilai agama menemukan makna publiknya. Agama bukan sekadar ritual, tetapi etika hidup bersama, dengan sesama manusia dan dengan alam.</p>
<p>Ketika iman mendorong kebijakan yang adil dan ilmu pengetahuan menuntun praktik yang tepat, maka pembangunan tidak lagi menjadi ancaman bagi lingkungan.</p>
<p>Sebelum kesabaran alam benar-benar habis, selalu ada kesempatan untuk berubah sebelum penyesalan datang tanpa jeda. Jika hutan terus menyusut, banjir akan menjadi rutinitas. Jika alam runtuh, iman kehilangan rumahnya. Pada tahap tersebut, yang tersisa bukan lagi perdebatan kebijakan, melainkan penyesalan kolektif.</p>
<p>Aceh hari ini berada di persimpangan, apakah memilih mendengar suara alam dan menata ulang cara hidup, atau terus menunda hingga kesabaran alam benar-benar habis? Jawaban atas pertanyaan itu akan menentukan bukan hanya masa depan Aceh, tetapi juga martabat manusia yang mengaku beriman, berakal dan beradab.</p>
<p>*Dosen Ilmu Komunikasi Fisip Unimal<br />
<!--/data/user/0/com.samsung.android.app.notes/files/clipdata/clipdata_bodytext_251220_224631_119.sdocx--></p>
<p>The post <a href="https://fokusinspirasi.com/aceh-di-ujung-kesabaran-alam/">ACEH DI UJUNG KESABARAN ALAM</a> appeared first on <a href="https://fokusinspirasi.com">Fokus Inspirasi</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://fokusinspirasi.com/aceh-di-ujung-kesabaran-alam/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">11175</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Aceh Antara Waroeng Kupi, Musibah Bencana dan Resonansi Sosial</title>
		<link>https://fokusinspirasi.com/aceh-antara-waroeng-kupi-musibah-bencana-dan-resonansi-sosial/</link>
					<comments>https://fokusinspirasi.com/aceh-antara-waroeng-kupi-musibah-bencana-dan-resonansi-sosial/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Fokus Inspirasi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 16 Dec 2025 16:39:11 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Banjir bandang]]></category>
		<category><![CDATA[Bencana Banjir dan longsor]]></category>
		<category><![CDATA[Kamaruddin Hasan]]></category>
		<category><![CDATA[opini waroeng kupi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://fokusinspirasi.com/?p=11172</guid>

					<description><![CDATA[<p>0 Oleh Kamaruddin Hasan* Aceh &#124; Fokusinspirasi.com &#8211; Secangkir kupi di tengah <a class="read-more" href="https://fokusinspirasi.com/aceh-antara-waroeng-kupi-musibah-bencana-dan-resonansi-sosial/" title="Aceh Antara Waroeng Kupi, Musibah Bencana dan Resonansi Sosial" itemprop="url"></a></p>
<p>The post <a href="https://fokusinspirasi.com/aceh-antara-waroeng-kupi-musibah-bencana-dan-resonansi-sosial/">Aceh Antara Waroeng Kupi, Musibah Bencana dan Resonansi Sosial</a> appeared first on <a href="https://fokusinspirasi.com">Fokus Inspirasi</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img decoding="async" class="alignnone size-full wp-image-11173" src="https://fokusinspirasi.com/wp-content/uploads/2025/12/IMG-20251211-WA0053.jpg" alt="" width="646" height="806" />0</p>
<p><em><b>Oleh Kamaruddin Hasan*</b></em></p>
<p><strong>Aceh | Fokusinspirasi.com</strong> &#8211; Secangkir kupi di tengah gelap. Aceh selalu punya cara sendiri untuk bertahan. Ketika listrik padam, jaringan komunikasi terputus dan kecemasan menyelimuti rumah-rumah akibat bencana, masyarakat Aceh tidak sepenuhnya kehilangan arah.</p>
<p>Di tengah gelap itu, secangkir kopi tetap mengepul. Waroeng kupi yang dalam keseharian sering dianggap ruang santai dan obrolan ringan, berubah menjadi simpul kehidupan sosial. Mampu menyalakan kembali harapan, menyambung kabar dan merawat kewarasan kolektif.</p>
<p>Fenomena ini bukan kebetulan. Waroeng kupi di Aceh sebagai ruang sosial, publik yang telah lama beresonansi dengan kehidupan masyarakatnya.</p>
<p>Dari diskusi politik, obrolan adat, hingga perbincangan agama dan ekonomi rakyat, semua menemukan tempatnya di meja-meja kayu yang sederhana. Saat bencana datang, resonansi sosial itu menguat, memantul dan menjelma menjadi daya lenting sosial yang nyata.</p>
<p>Dalam perspektif sosiologi perkotaan dan komunikasi sosial pembangunan, Waroeng Kupi menjadi infrastruktur sosial, infrastruktur tidak selalu berbentuk jalan, gedung, jaringan telekomunikasi atau jaringan listrik.</p>
<p>Ada infrastruktur sosial, ruang, relasi dan praktik yang menopang keberlangsungan hidup masyarakat. Waroeng kupi di Aceh sebagai contoh paling nyata dari infrastruktur sosial tersebut.</p>
<p>Ketika badai, banjir, langsor atau pemadaman Listrik, kehilangan karingan HP yang mampu melumpuhkan sistem formal, waroeng kupi justru mengambil alih fungsi-fungsi penting tersebut; menjadi pusat informasi, tempat mengisi daya perangkat komunikasi, ruang kerja darurat, bahkan ruang belajar alternatif. Mahasiswa dosen menjalankan perkuliahan daring, pelajar mengerjakan tugas sekolah, jurnalis mengirim berita dan warga mencari kabar keluarga, semuanya terjadi di ruang publik yang sama.</p>
<p>Dalam hal ini, boleh saja Negara absen sesaat, tetapi masyarakat Aceh tidak sepenuhnya rapuh. Hadir mekanisme bertahan yang lahir dari kebiasaan, kedekatan sosial dan kepercayaan bersama.</p>
<p>Waroeng kupi menjadi bukti bahwa ketahanan sosial tidak selalu dibangun dari atas, melainkan tumbuh dari bawah dari praktik sehari-hari yang sering dianggap biasa saja.</p>
<p>Musibah bencana memiliki satu sifat yang paradoksal; menghancurkan, tetapi juga membuka. Dalam situasi darurat, identitas sosial yang biasanya kaku, usia, profesi, kelas ekonomi, bahkan status sosial menjadi cair. Di waroeng kupi, pejabat duduk berdampingan dengan buruh, dosen berbagi colokan listrik dengan mahsiswa, siswa SMA dan warga kota berbincang dengan pendatang tanpa canggung.</p>
<p>Realitas inilah yang disebut sebagai resonansi sosial dengan nilai kebersamaan, solidaritas dan empati yang dipantulkan secara kolektif. Resonansi ini tidak diciptakan secara instan saat bencana datang. Namun, akumulasi panjang dari budaya Aceh yang menjunjung tinggi musyawarah, kebersamaan, saling bantu dan penghormatan terhadap sesama.</p>
<p>Resonansi sosial Masyarakat Aceh mampu mencairkan berbagai sekat.<br />
Waroeng kupi mempercepat proses resonansi tersebut, menjadi ruang aman secara sosial dan emosional.</p>
<p>Di sana, orang bukan hanya bertukar informasi, tetapi juga menyalurkan kecemasan, ketakutan dan harapan. Dalam obrolan ringan tentang cuaca, listrik atau kabar Gampung halaman, terselip proses penyembuhan sosial yang sering luput dari perhatian kebijakan publik.</p>
<p>Aceh bukan wilayah yang asing dengan bencana. Tsunami 2004, konflik berkepanjangan, banjir, longsor dan badai tropis telah membentuk ingatan kolektif masyarakatnya. Ingatan ini membuat masyarakat Aceh memiliki sensitivitas tinggi terhadap krisis, sekaligus kemampuan beradaptasi yang kuat.</p>
<p>Dalam konteks ini, waroeng kupi berfungsi sebagai ruang penyimpanan ingatan sosial. Di sanalah pengalaman masa lalu dibicarakan, dibandingkan dan dimaknai ulang.</p>
<p>Warga saling mengingatkan, saling menenangkan dan secara tidak langsung membangun narasi bersama tentang bagaimana menghadapi musibah.</p>
<p>Resonansi sosial yang lahir dari ingatan kolektif ini penting. Mampu mencegah kepanikan berlebihan, memperkuat solidaritas dan menjaga kohesi sosial. Ketika informasi resmi terlambat atau simpang siur, jaringan informal di waroeng kupi sering kali menjadi rujukan pertama yang dipercaya.</p>
<p>Masyarakat Aceh tidak memisahkan secara tegas antara ruang sosial, publik, emosional dan spiritual. Dalam obrolan di waroeng kupi, isu bencana sering dikaitkan dengan nilai keagamaan; ujian, musibah, kesabaran dan ikhtiar. Dimensi ini memberi makna pada penderitaan, sekaligus kekuatan untuk bertahan.</p>
<p>Kupi, dalam konteks ini, bukan sekadar minuman, menjadi medium perjumpaan, simbol ketenangan, dan sarana merawat hubungan sosial.</p>
<p>Aroma kupi yang hangat di tengah gelap dan sunyi memiliki efek psikologis yang nyata; menenangkan, menguatkan dan menegaskan bahwa seseorang tidak sendirian menghadapi krisis.</p>
<p>Pengalaman Aceh menunjukkan bahwa penanganan bencana tidak cukup hanya mengandalkan infrastruktur fisik dan teknologi. Pemerintah perlu mengakui dan melibatkan infrastruktur sosial yang sudah hidup di tengah masyarakat.</p>
<p>Waroeng kupi, meunasah dan ruang publik informal lainnya harus dipandang sebagai mitra strategis dalam komunikasi bencana.</p>
<p>Pendekatan yang inklusif dan berbasis budaya lokal akan membuat kebijakan lebih efektif dan diterima masyarakat. Alih-alih meminggirkan ruang-ruang informal, negara seharusnya belajar dari daya adaptif yang telah terbukti bekerja di lapangan.</p>
<p>Aceh antara waroeng kupi, resonansi sosial dan musibah bencana merupakan kisah tentang daya tahan manusia. Di tengah krisis, masyarakat Aceh menunjukkan bahwa solidaritas tidak selalu lahir dari pidato resmi atau instruksi birokrasi, melainkan dari kebiasaan berkumpul, berbagi dan saling mendengar.</p>
<p>Waroeng kupi mengajarkan bahwa ketahanan sosial dibangun dari relasi yang hangat, ruang yang inklusif dan kepercayaan bersama. Dalam secangkir kupi, Aceh merawat ingatan, harapan dan keberanian untuk terus bertahan dalam situasi dan kondisi apapun.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><em>Kamaruddin Hasan</em></strong></p>
<p><strong><em><!--/data/user/0/com.samsung.android.app.notes/files/clipdata/clipdata_bodytext_251216_233538_743.sdocx-->Dosen Ilmu Komunikasi Fisip Unimal</em></strong><br />
<!--/data/user/0/com.samsung.android.app.notes/files/clipdata/clipdata_bodytext_251216_232713_675.sdocx--></p>
<p>The post <a href="https://fokusinspirasi.com/aceh-antara-waroeng-kupi-musibah-bencana-dan-resonansi-sosial/">Aceh Antara Waroeng Kupi, Musibah Bencana dan Resonansi Sosial</a> appeared first on <a href="https://fokusinspirasi.com">Fokus Inspirasi</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://fokusinspirasi.com/aceh-antara-waroeng-kupi-musibah-bencana-dan-resonansi-sosial/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">11172</post-id>	</item>
		<item>
		<title>MERAJUT KEMBALI EKOSISTEM ALAM BERSAMA MANUSIA</title>
		<link>https://fokusinspirasi.com/merajut-kembali-ekosistem-alam-bersama-manusia/</link>
					<comments>https://fokusinspirasi.com/merajut-kembali-ekosistem-alam-bersama-manusia/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Fokus Inspirasi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 09 Dec 2025 02:10:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Daerah]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://fokusinspirasi.com/?p=11142</guid>

					<description><![CDATA[<p>(Sebagai Khalifah Di Muka Bumi?) Indonesia &#124; Fokusinspirasi.com &#8211; Ketika amanah khalifah diuji <a class="read-more" href="https://fokusinspirasi.com/merajut-kembali-ekosistem-alam-bersama-manusia/" title="MERAJUT KEMBALI EKOSISTEM ALAM BERSAMA MANUSIA" itemprop="url"></a></p>
<p>The post <a href="https://fokusinspirasi.com/merajut-kembali-ekosistem-alam-bersama-manusia/">MERAJUT KEMBALI EKOSISTEM ALAM BERSAMA MANUSIA</a> appeared first on <a href="https://fokusinspirasi.com">Fokus Inspirasi</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure id="attachment_11120" aria-describedby="caption-attachment-11120" style="width: 751px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" class="wp-image-11120 size-full" src="https://fokusinspirasi.com/wp-content/uploads/2025/12/IMG-20251202-WA0082.jpg" alt="" width="751" height="731" /><figcaption id="caption-attachment-11120" class="wp-caption-text">Kamaruddin Hasan, Dosen Ilmu Komunikasi Fisip Unimal. <em>(Foto: Dok Pribadi)</em></figcaption></figure>
<p><b>(</b><i><b>Sebagai Khalifah Di Muka Bumi?)</b></i></p>
<p><strong>Indonesia | Fokusinspirasi.com</strong> &#8211; Ketika amanah khalifah diuji oleh bencana banjir dan longsor yang melanda Aceh-Sumatera pada akhir November 2025, tentu bukan hanya tragedi ekologis, tetapi juga tragedi moral dan spiritual bagi manusia.</p>
<p>Kerusakan alam hari ini bukan sekadar akibat proses alamiah, melainkan cermin dari bagaimana manusia menjalankan atau mengabaikan amanah sebagai <i>khalifah di muka bumi</i>. Dalam nilai-nilai keagamaan, termasuk Islam, manusia ditempatkan sebagai penjaga, pelindung dan pengelola bumi. Namun ketika alam, hutan dijadikan komoditas, sungai dijadikan tempat pembuangan dan tanah diperlakukan tanpa penghormatan, akhirnya amanah itu jadi retak.<!--/data/user/0/com.samsung.android.app.notes/files/clipdata/clipdata_bodytext_251209_083756_608.sdocx--></p>
<p>Musibah bencana banjir dan longsor silih berganti termasuk yang terjadi November 2025 seharusnya membawa manusia pada kesadaran penuh, bahwa merajut kembali ekosistem alam tidak bisa dilakukan tanpa merajut kembali kesadaran manusia sebagai khalifah dimuka bumi, menjadi seutuhnya makhluk beragama, makhluk berakal, berakhlak, bermoral, beretika dengan salah satu kewajibannya menjaga keseimbangan bumi.</p>
<p>Memang belum terlambat, manusia untuk kembali menunduk, merenung dan bertanya apakah sudah layak disebut penjaga bumi atau justru perusak terbesar ekosistem ini?</p>
<p>Ketika ekosistem alam menyampaikan pesan, dengan Alam yang senantiasa berbicara, tetapi manusia sering tuli. Banjir besar, longsor, kekeringan, dan perubahan iklim merupakan bahasa alam ketika keseimbangan terganggu.</p>
<p>Di Aceh-Sumatera dan banyak wilayah lain, hilangnya jutaan hektar hutan dalam dua dekade terakhir telah memutus jalinan ekologis yang selama ribuan tahun melindungi kehidupan manusia. Akar-akar yang dulu menahan tanah kini tak lagi ada.</p>
<p>Pohon-pohon yang dulu memecah curah hujan telah diganti oleh bangunan, perkebunan monokultur dan deforestasi proses hilangnya tutupan hutan secara permanen yang mengubah lahan hutan menjadi non-hutan akibat penebangan pohon skala besar, pembakaran, konversi lahan perkebunan, pertambangan, pembangunan infrastruktur yang seringkali dilakukan manusia dan berdampak serius pada lingkungan, iklim, dan keanekaragaman hayati.</p>
<p>Ketika hujan deras tiba pada mulai November- Desember (baca:<i>keunongsa </i>atau<i> keunenong 1</i>), alam tidak lagi mampu menahan serangan air. Sungai meluap, lereng ambruk, gampông- gampông terendam, bahkan “hilang” dalam hitungan jam. Kehilangan nyawa, rumah, kebun dan masa depan. Namun di balik itu semua, alam sebenarnya sedang menyampaikan pesan; kembalikan keseimbangan, kembalikan keharmonisan, penjaga bukan perusak, kembalikan manusia sebagai khalaifah dimuka bumi.</p>
<p>Dalam pandangan spiritual, alam bukan sekadar objek; sebagai makhluk yang tunduk pada hukum Tuhan. Ketika manusia merusaknya, manusia sejatinya telah melanggar amanah kosmik yang diberikan kepadanya. Ekosistem alam rusak karena ekosistem moral manusia ikut rusak.</p>
<p>Dalam Konsep <i>khalifah fil ardh</i> (pemakmur bumi) mengandung dua inti besar yaitu amanah dan tanggung jawab. Amanah berarti bumi tidak dimiliki manusia, tetapi dititipkan kepada manusia.</p>
<p>Tanggung jawab berarti manusia wajib mengelola bumi dengan keseimbangan, keadilan dan kasih sayang. Namun beberapa dekade terakhir, manusia lebih sering bertindak sebagai <i>perusak</i> ketimbang <i>pemakmur</i>.</p>
<p>Ketika hutan ditebang tanpa reboisasi, amanah dilanggar. Ketika air sungai dipenuhi limbah, tanggung jawab ditelantarkan. Ketika tanah diambil habis-habisan tanpa memperhatikan daya dukung, keseimbangan tergoyahkan. Ketika pembangunan hanya mementingkan ekonomi jangka pendek, nilai moral digeser ke pinggir.</p>
<p>Musibah Sumatera 2025 memperlihatkan ketidakselarasan antara manusia dan amanah kekhalifahan. Namun dalam bencana, mesti juga melihat secercah Cahaya; relawan berdatangan, masyarakat saling membantu, dan solidaritas lintas agama dan budaya kembali menguat. Tentu, ini bukti bahwa fitrah manusia sebagai khalifah belum sepenuhnya padam hanya tertutup oleh kerak keserakahan dan kelalaian yang terlalu lama dibiarkan.</p>
<p>Merajut kembali harmoni ekosistem alam bersama manusia berarti mengajak manusia kembali ke esensi identitas spiritualnya sebagai khalifah, bukan sekadar penghuni bumi.</p>
<p>Pemulihan ekosistem bukan hanya kerja teknis, tetapi juga kerja moral dan budaya. Untuk itu, ada beberapa langkah besar yang mesti disegerakan, antara lain; pemulihan ekosistem alam melalui pendekatan iman dan ilmu, melakukan reboisasi, konservasi, rehabilitasi sungai dan tata ruang berbasis risiko adalah instrumen teknis.</p>
<p>Namun tanpa nilai spiritual yang memandu, upaya ini hanya bertahan sementara. Kesadaran ekologis yang lahir dari iman memunculkan rasa takut berbuat kerusakan, rasa malu meninggalkan amanah dan rasa cinta terhadap ciptaan Tuhan.</p>
<p>Pendidikan khalifah sejak dini; anak-anak mesti diajarkan bukan hanya sains lingkungan, tetapi juga etika lingkungan. Mesti belajar bahwa membuang sampah sembarangan bukan hanya melanggar aturan, tetapi mengkhianati amanah sebagai penjaga bumi.</p>
<p>Kampus, sekolah, pesantren, lembaga sosial, lembaga adat dan media harus menjadi ruang untuk mengajarkan dua hal sekaligus yaitu literasi lingkungan dan literasi sosial.</p>
<p>Masyarakat perlu tahu bahwa menjaga sungai berarti menjaga sesama. Mengurangi sampah berarti mengurangi risiko orang lain terkena penyakit.</p>
<p>Poin penting adalah mesti mengintegrasikan nilai-nilai keagamaan, kearifan lokal kedalam literasi ekologis.</p>
<p>Selanjutnya, kebijakan publik tentang ekosistem yang berorientasi pada keberlanjutan, pemerintah perlu memastikan bahwa manusia tidak hanya menjadi khalifah dalam tutur kata, tetapi dalam praktik kebijakan.</p>
<p>Termasuk penegakan hukum tegas terhadap perusak hutan, pemulihan ekosistem berbasis partisipasi, pembangunan berkelanjutan yang mempertimbangkan generasi mendatang serta penggunaan teknologi ramah lingkungan.<br />
Membangun sistem informasi bencana yang cepat, akurat, dan humanis adalah kunci mengikat kembali jaringan sosial.</p>
<p>Komunikasi yang jujur dan empatik dapat mengurangi kepanikan dan memperkuat tindakan kolektif. Juga diperlukan rekonstruksi tata ruang dan pengelolaan lahan berbasis partisipasi. <i>Community based environmental management</i> menjadi jembatan antara kebutuhan alam dan kepentingan sosial.</p>
<p>Ketika masyarakat dilibatkan, rasa memiliki meningkat dan kerusakan dapat diminimalisir. Termasuk menguatkan nilai gotong royong yang menjadi fondasi ekosistem sosial, budaya saling menjaga dan saling membantu mesti dipertahankan sebagai mekanisme penopang ketahanan komunitas.</p>
<p>Manusia mesti menyadari bahwa bumi bukan warisan nenek moyang, tetapi pinjaman dari anak cucu. Jika gagal menjadi khalifah, generasi mendatang mewarisi kerusakan yang tidak mereka buat.</p>
<p>Mengingatkan manusia bahwa hubungan dengan bumi bukanlah hubungan kepemilikan, melainkan hubungan tanggung jawab. Jika sesuatu dianggap sebagai warisan nenek moyang, biasanya merasa bebas menggunakannya sesuka hati seolah-olah sudah menjadi hak penuh untuk dinikmati tanpa batas.<br />
Tetapi ketika bumi dipahami sebagai pinjaman dari anak cucu, perspektif berubah menjadi sadar bahwa segala tindakan hari ini memiliki konsekuensi langsung terhadap generasi yang akan datang.</p>
<p>Manusia mesti bertindak sebagai penjaga, bukan sebagai penguasa yang berhak mengeksploitasi alam tanpa batas. Bukan pemilik terakhir bumi; hanya penumpang sementara yang berkewajiban mengembalikan bumi dalam kondisi minimal sama baiknya, atau bahkan lebih baik, kepada generasi mendatang.</p>
<p>Banjir dan longsor Sumatera 2025 merupakan peringatan keras namun penuh cinta bahwa alam ingin diperlakukan dengan hormat. Alam ingin manusia kembali kepada fitrah kekhalifahannya dengan menjaga, merawat dan melestarikan.</p>
<p>Belum terlambat untuk merajut kembali hubungan harmoni dan suci secara berkelanjutan; ekosistem alam dan manusia sebagai khalifah, tentunya bukan sekadar tugas ekologis, tetapi ibadah yang menghubungkan manusia dengan Tuhan, alam dan sesama.</p>
<p><strong>Kamaruddin Hasan</strong></p>
<p><em>Penulis adalah Dosen Ilmu Komunikasi Fisip Unimal.</em><!--/data/user/0/com.samsung.android.app.notes/files/clipdata/clipdata_bodytext_251209_090400_510.sdocx--></p>
<p><!--/data/user/0/com.samsung.android.app.notes/files/clipdata/clipdata_bodytext_251209_090109_651.sdocx-->&nbsp;</p>
<p>The post <a href="https://fokusinspirasi.com/merajut-kembali-ekosistem-alam-bersama-manusia/">MERAJUT KEMBALI EKOSISTEM ALAM BERSAMA MANUSIA</a> appeared first on <a href="https://fokusinspirasi.com">Fokus Inspirasi</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://fokusinspirasi.com/merajut-kembali-ekosistem-alam-bersama-manusia/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">11142</post-id>	</item>
		<item>
		<title>ITB BERSAMA WOMEN RANGER KENALKAN SEEDPOD UNTUK PERCEPAT REGENERASI ROTAN ACEH</title>
		<link>https://fokusinspirasi.com/itb-bersama-women-ranger-kenalkan-seedpod-untuk-percepat-regenerasi-rotan-aceh/</link>
					<comments>https://fokusinspirasi.com/itb-bersama-women-ranger-kenalkan-seedpod-untuk-percepat-regenerasi-rotan-aceh/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Fokus Inspirasi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 02 Dec 2025 15:46:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Daerah]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://fokusinspirasi.com/?p=11116</guid>

					<description><![CDATA[<p>Banda Aceh &#124; Fokusinspirasi.com &#8211; Tim Lintas Fakultas Institut Teknologi Bandung (ITB) <a class="read-more" href="https://fokusinspirasi.com/itb-bersama-women-ranger-kenalkan-seedpod-untuk-percepat-regenerasi-rotan-aceh/" title="ITB BERSAMA WOMEN RANGER KENALKAN SEEDPOD UNTUK PERCEPAT REGENERASI ROTAN ACEH" itemprop="url"></a></p>
<p>The post <a href="https://fokusinspirasi.com/itb-bersama-women-ranger-kenalkan-seedpod-untuk-percepat-regenerasi-rotan-aceh/">ITB BERSAMA WOMEN RANGER KENALKAN SEEDPOD UNTUK PERCEPAT REGENERASI ROTAN ACEH</a> appeared first on <a href="https://fokusinspirasi.com">Fokus Inspirasi</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img decoding="async" class="alignnone size-full wp-image-11117" src="https://fokusinspirasi.com/wp-content/uploads/2025/12/IMG-20251202-WA0074.jpg" alt="" width="1270" height="743" /></p>
<p><strong>Banda Aceh | Fokusinspirasi.com</strong> &#8211; Tim Lintas Fakultas Institut Teknologi Bandung (ITB) berkolaborasi dengan komunitas Women Ranger (Mpu Uteun) Desa Damaran Baru meluncurkan SeedPod Smart-Nursery portabel berbasis plasma sebagai solusi pembibitan untuk meningkatkan regenerasi rotan berkelanjutan di hutan Aceh.<br />
‎<br />
‎Regenerasi rotan di alam menghadapi tantangan serius pada fase germinasi dan pertumbuhan awal. Banyak biji tidak mampu berkecambah, sementara bibit muda yang tidak terlindungi rentan terhadap hama dan tekanan lingkungan.<br />
‎<br />
‎Akibatnya, tingkat keberhasilan hidup (survival rate) bibit rotan di alam jarang melebihi 5 persen. Kondisi ini menjadi ancaman bagi keberlanjutan rotan sebagai sumber daya ekologis maupun komoditas ekonomi penting bagi masyarakat.<br />
‎<br />
‎Untuk menjawab persoalan tersebut, tim ITB mengembangkan SeedPod, sebuah<br />
‎nursery portabel skala komunitas berkapasitas 50–100 bibit per unit.<br />
‎<br />
‎Teknologi ini dilengkapi sistem penyiraman otomatis serta perlindungan terhadap hama, sehingga mampu mengoptimalkan fase pertumbuhan awal sebelum bibit dipindahkan kembali ke kawasan hutan.<br />
‎<br />
‎“SeedPod ini kami rancang sebagai teknologi yang sederhana, mudah dirawat, dan bisa langsung dikelola masyarakat, namun tetap efektif meningkatkan keberhasilan pembibitan rotan,” jelas Indria Herman, Ph.D., dari FTMD ITB (02/12/2025).<br />
‎<br />
‎Pendekatan desain SeedPod mengintegrasikan rekayasa sistem sederhana, pertimbangan ekologis, dan prinsip keberlanjutan sosial.</p>
<p>Setiap unit dirancang agar dapat dirakit, dipindahkan, dan direplikasi menggunakan material yang mudah diperoleh di desa. Dengan demikian, SeedPod tidak hanya berfungsi sebagai alat pembibitan, tetapi juga sebagai platform pembelajaran teknologi tepat guna yang mendorong kemandirian masyarakat dalam pengelolaan sumber daya hutan.<br />
‎<br />
‎Keunggulan program ini terletak pada penempatan Women Ranger (Mpu Uteun) sebagai aktor utama pelaksana di lapangan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Para ibu penjaga hutan Damaran Baru terlibat langsung dalam pengoperasian SeedPod, perawatan bibit harian, pencatatan pertumbuhan, hingga pemantauan kesiapan tanam. Keterlibatan aktif ini menjadi kunci keberlanjutan pembibitan sekaligus memperkuat peran perempuan dalam konservasi dan ekonomi berbasis komunitas.<br />
‎<br />
‎“Pelibatan Women Ranger memastikan proses transfer pengetahuan tidak berhenti pada kegiatan proyek semata, melainkan menjadi praktik rutin yang tertanam di tingkat desa,” ujar Deny.<br />
‎<br />
‎Kegiatan yang berlangsung pada 1–3 Desember 2025 meliputi Pembuatan prototipe SeedPod Smart-Nursery berbasis plasma, Pelatihan teknis pembibitan rotan berkelanjutan serta penyusunan handbook aplikatif bagi komunitas, Produksi materi dokumentasi dan publikasi berupa video jurnal, konten media nasional, dan materi pameran.<br />
‎<br />
‎Program ini mendapat dukungan dari GIZ (Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit) dan Jelajah Rattan, mitra yang konsisten mendorong pengelolaan rotan berkelanjutan di Indonesia.<br />
‎<br />
‎Melalui sinergi antara ITB, Women Ranger, dan para mitra, Desa Damaran Baru diharapkan dapat berkembang sebagai model desa pembibitan rotan berkelanjutan berbasis komunitas mengintegrasikan inovasi teknologi sederhana, pemberdayaan perempuan, pelestarian ekosistem hutan tropis, serta penguatan ekonomi lokal.<br />
<!--/data/user/0/com.samsung.android.app.notes/files/clipdata/clipdata_bodytext_251202_224344_837.sdocx--></p>
<p>The post <a href="https://fokusinspirasi.com/itb-bersama-women-ranger-kenalkan-seedpod-untuk-percepat-regenerasi-rotan-aceh/">ITB BERSAMA WOMEN RANGER KENALKAN SEEDPOD UNTUK PERCEPAT REGENERASI ROTAN ACEH</a> appeared first on <a href="https://fokusinspirasi.com">Fokus Inspirasi</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://fokusinspirasi.com/itb-bersama-women-ranger-kenalkan-seedpod-untuk-percepat-regenerasi-rotan-aceh/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">11116</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
